Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juli 2012

Bagaimana Saya Memandang Sebuah Cerita

Banyak orang mengira saya hanya mencari sisi filosofis dalam sebuah cerita.

Saya oke-oke saja dengan anggapan itu, selama yang dimaksud dengan "sisi filosofis" itu bukan sesederhana "pesan moral". Memang saya mencari filsafat dari sebuah cerita, tapi filsafat yang dimaksudkan adalah "hakikat". Tapi berhubung afektivitas sangat subjektif, maka hakikat yang saya tarik dari sebuah karya tentu saja tidak bersifat objektif. Bagaimanapun juga karya intelektual sendiripun tercipta dari afektivitas yang sifatnya sangat subjektif, maka hampir tidak mungkin memujanya dengan penuh secara objektif.

Jadi, bila saya pikir cerita itu memiliki plot lemah namun sangat kuat di diksi dan prosa, maka hakikat cerita itu adalah untuk mengumbar kata-kata indah nan mendayu-dayu yang mampu memancing emosi dan perasaan. Bila cerita itu hendak menampilkan sebuah ideologi mengenai cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka itulah filsafatnya, cara pandang penulisnya.

Melihat unsur filosofi dalam sebuah cerita bukan berarti melihat pesan moral. Pesan moral lebih ke arah kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan ideologi seseorang. Sedangkan melihat sisi filosofi dari sebuah cerita berarti melihat isi hakikat cerita itu, apa bentuk sejati dari cerita itu. Ide di balik cerita itu, dan untuk apa cerita itu ditulis.

Sayangnya tidak semua orang paham apa itu filsafat sehingga mereka lantas terkesan menyamakannya dengan "pesan moral"

Bagaimana Saya Memandang Sebuah Cerita

Banyak orang mengira saya hanya mencari sisi filosofis dalam sebuah cerita.

Saya oke-oke saja dengan anggapan itu, selama yang dimaksud dengan "sisi filosofis" itu bukan sesederhana "pesan moral". Memang saya mencari filsafat dari sebuah cerita, tapi filsafat yang dimaksudkan adalah "hakikat". Tapi berhubung afektivitas sangat subjektif, maka hakikat yang saya tarik dari sebuah karya tentu saja tidak bersifat objektif. Bagaimanapun juga karya intelektual sendiripun tercipta dari afektivitas yang sifatnya sangat subjektif, maka hampir tidak mungkin memujanya dengan penuh secara objektif.

Jadi, bila saya pikir cerita itu memiliki plot lemah namun sangat kuat di diksi dan prosa, maka hakikat cerita itu adalah untuk mengumbar kata-kata indah nan mendayu-dayu yang mampu memancing emosi dan perasaan. Bila cerita itu hendak menampilkan sebuah ideologi mengenai cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka itulah filsafatnya, cara pandang penulisnya.

Melihat unsur filosofi dalam sebuah cerita bukan berarti melihat pesan moral. Pesan moral lebih ke arah kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan ideologi seseorang. Sedangkan melihat sisi filosofi dari sebuah cerita berarti melihat isi hakikat cerita itu, apa bentuk sejati dari cerita itu. Ide di balik cerita itu, dan untuk apa cerita itu ditulis.

Sayangnya tidak semua orang paham apa itu filsafat sehingga mereka lantas terkesan menyamakannya dengan "pesan moral"

Selasa, 10 Juli 2012

Cendekiawan yang "Sombong"


Ada sebuah masyarakat lalim yang tidak suka belajar dan setiap hari hanya bicara sampah. Mereka bergosip atas penderitaan dan aib orang lain dan menertawakannya.

Kemudian seorang cendekiawan mengkritik mereka, "apa kalian belajar matematika?"
Mereka menjawab, "tidak."
Sang cendekiawan pun paham kenapa mereka hanya bergosip atas penderitaan dan aib orang lain saja. Ia bermaksud menegur mereka, "sayang sekali. Kalian telah kehilangan separuh dari kehidupan kalian."

Tak lama si cendekiawan bertanya lagi, "apa kalian membaca tentang kebijaksanaan?"
Mereka menjawab, "tidak."
Sang cendekiawan pun paham kenapa mereka tidak suka belajar dan setiap hari hanya bicara sampah. Ia bermaksud menegur mereka secara implisit, "sayang sekali. Kalian telah kehilangan separuh dari kehidupan kalian."

Penduduk tidak mengerti teguran sang cendekiawan yang ingin membuat mereka menghabiskan waktu untuk belajar dan memperkaya diri, tidak dengan bergosip aib orang lain dan bicara sampah saja. Mereka hanya mengerti bahwa si cendekiawan sedang menghina mereka.

Tak lama kemudian salah seorang penduduk naik perahu bersama sang cendekiawan. Kapal mereka bocor.
Si penduduk bertanya, "kau bisa berenang tidak?"
Sang cendekiawan menjawab jujur, "tidak."
Penduduk itu senang bukan main dan membalas sakit hatinya, "sayang sekali, kau telah kehilangan separuh hidupmu."

Cendekiawan itu mati tenggelam, dikenal sebagai orang sombong. Masyarakat itu tetap membicarakan aib orang lain sebagai gosip makan siang dan terus bicara sampah.

Cendekiawan yang "Sombong"


Ada sebuah masyarakat lalim yang tidak suka belajar dan setiap hari hanya bicara sampah. Mereka bergosip atas penderitaan dan aib orang lain dan menertawakannya.

Kemudian seorang cendekiawan mengkritik mereka, "apa kalian belajar matematika?"
Mereka menjawab, "tidak."
Sang cendekiawan pun paham kenapa mereka hanya bergosip atas penderitaan dan aib orang lain saja. Ia bermaksud menegur mereka, "sayang sekali. Kalian telah kehilangan separuh dari kehidupan kalian."

Tak lama si cendekiawan bertanya lagi, "apa kalian membaca tentang kebijaksanaan?"
Mereka menjawab, "tidak."
Sang cendekiawan pun paham kenapa mereka tidak suka belajar dan setiap hari hanya bicara sampah. Ia bermaksud menegur mereka secara implisit, "sayang sekali. Kalian telah kehilangan separuh dari kehidupan kalian."

Penduduk tidak mengerti teguran sang cendekiawan yang ingin membuat mereka menghabiskan waktu untuk belajar dan memperkaya diri, tidak dengan bergosip aib orang lain dan bicara sampah saja. Mereka hanya mengerti bahwa si cendekiawan sedang menghina mereka.

Tak lama kemudian salah seorang penduduk naik perahu bersama sang cendekiawan. Kapal mereka bocor.
Si penduduk bertanya, "kau bisa berenang tidak?"
Sang cendekiawan menjawab jujur, "tidak."
Penduduk itu senang bukan main dan membalas sakit hatinya, "sayang sekali, kau telah kehilangan separuh hidupmu."

Cendekiawan itu mati tenggelam, dikenal sebagai orang sombong. Masyarakat itu tetap membicarakan aib orang lain sebagai gosip makan siang dan terus bicara sampah.

Kamis, 05 Juli 2012

Respon to responses : Beringin Mawar

Saja putuskan untuk menuliskan tanggapan dari respon orang-orang terhadap cerita Beringin Mawar di sini.

Cukup puas rasanya mengetahui beragam interpretasi orang mengenai cerpen saya ini. Ada yang sadar kalau ini alegori, ada yang terkesan, ada yang biasa-biasa aja, yang paling kocak adalah timbulnya gerakan Bebas Disamber Geledek. ROFL. Tapi perlu ditekankan bahwa tidak ada komentar yang salah, karena setiap orang benar atas cara pikir dan pengalamannya masing-masing. 

Saya ga mau mengganggu komentar yang diberikan dengan cara meralat atau mengkonfirmasi beberapa orang yang mengintepretasikan alegori itu, baik salah ataupun tepat di lapak Kasfan. Karena menyenangkan juga melihat beragam kesan orang terhadap cerita itu. Mau terima atau nggak, saya suka sekali membaca respon-respon orang terhadapnya, terutama karena saya jadi tahu sendiri cara berpikir seseorang dan cara seseorang memandang sesuatu. Apa subjektivitas para penulis itu. Menarik, bukan?

Dalam kasus inilah, "Kebenaran itu relatif" berlaku.

Pesan Sesungguhnya 
Cerita ini sesungguhnya adalah cerita tentang sabdha. Saya hendak menunjukkan betapa ampuhnya kata-kata itu yang seringkali disebut dengan "sugesti". Benih unggulan itu aslinya adalah benih mawar, yang kemudian Bebas mengatakan bahwa ia ingin beringin, maka dia jadi beringin. Tapi setelah tumbuh, Bebas mensabdhakan dia untuk menjadi mawar yang cantik. Maka benih ini terlihat bingung, "sebenernya saya ini ditakdirkan menjadi beringin atau mawar sih?" 

Setelah dia dibuang, dia dirawat oleh Kakek dan dibebaskan mau menjadi apa. Akhirnya ia tumbuh sebagai dua identitas, satu identitas aslinya dan yang kedua, identitas yang diinginkan bebas untuknya dahulu. Terakhir, Bebas berusaha membunuh Beringin Mawar, namun seperti kata Nietzsche; "Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu semakin kuat". Beringin Mawar terus bertambah kuat hingga akhirnya ia mati karena sabdha dari Bebas terhadapnya.

Terakhir, harapan Kakek terhadap Beringin Mawar bahwa benih ini mampu menghidupkan kembali tanah gersang, menjadi kenyataan karena ia mensabdhakannya seperti itu. Beringin Mawar membuahkan sebuah buah yang akhirnya mampu menurunkan hujan dan menghidupkan dunia seperti harapan Kakek. Semua adalah sabdha dan sugesti. Salah satu kekuatan terbesar di alam raya ini .... menurut saya.

Siapakah Bebas?
Bebas tidak lain adalah sebutan saya bagi manusia. 
Makanya ada yang bingung, kenapa namanya bebas, padahal kolot. Ya, karena dia representasi dari manusia, dan ini butuh penjelasan lebih biar gak dibilang kalau kesimpulan ini katanya; "bolong logika" (maksudnya : logical fallacy). Tapi hampir di setiap cerita-cerita yang kutulis, aku selalu menuliskan bahwa "manusia berasal dari pancaran cinta yang menitis ke dunia karena kebebasan.", manusia bagian dari cinta yang menitis ke dunia karena adanya kebebasan. Ini agak-agak menggunakan pengaruh dari filosofi Neo-Platonisme, jadi bila anda masih kesulitan memahaminya atau belum mengerti, coba dibaca saja Neo-Platonisme.

Bebas adalah representasi dari manusia, mereka memang adalah kebebasan, namun kebebasan yang mereka terapkan, sangat jarang dilakukan demi orang lain. Manusia selalu mengembalikan kebebasan menurut sudut pandangnya sendiri. Karena mereka bebas, maka mereka bebas berbuat apapun, jarang ada orang yang mencintai kebebasan lantas berpikiran terbuka. Tapi, ya, mereka bebas. Bukti dari kebebasan manusia adalah; dunia ini terbangun karena kritik.

Saya tidak bermaksud menciptakan karakter Bebas menjadi begitu menyebalkan atau dia ada untuk menjadi karakter yang disebelin. Justru sebenarnya Bebas adalah kritik saya untuk reaksi masyarakat terhadap perbedaan. Jujur saja deh, kalau melihat sesuatu yang aneh atau tidak wajar, reaksi orang pertama kali pasti adalah curiga. Orang gak suka dengan yang aneh-aneh dan melenceng dari aslinya. Sebut saja misalnya Michael Jackson, Lady Gaga, atau di bidang sains, seperti teori Copernicus, Galileo. Bahkan seorang dari Yunani (maaf saya lupa nama beliau), barangkali dia adalah seorang yang pertama kali sadar bahwa matahari adalah batu yang bercahaya. Dan karena itu dia dibenci dan dianggap pagan. Dan ada kejadian yang membuat saya begitu miris dan mengagungkan Sigmund Freud, adalah ketika orang-orang dengan personality disorder dianggap kerasukan setan dan dikucilkan dari masyarakatnya (bebas). Inilah potret masyarakat yang coba saya kritik melalui Bebas. Mereka memang bebas, tapi seringkali menerapkan kebebasan untuk dirinya sendiri sehingga akhirnya, mereka tidak membebaskan orang lain.

Contoh lain yang merepresentasikan Bebas adalah rasisme, fasisme, etnosentrisme, semua ini yang hendak saya kritik melalui Bebas. Manusia menerima perbedaan itu bullshit. Pada umumnya, manusia benci perbedaan, mereka mencari yang sama kemudian berkelompok. Karena mereka ingin menjadikan dunia tempat yang nyata bagi mereka, maka mereka berusaha menobatkan manusia lain yang berbeda menjadi sama dengan mereka. 

Dalam cerita, ada komentar yang sangat tepat mengenai Bebas, "I saw first, it's mine". 
Kemudian setelah benihnya tumbuh menjadi yang tidak ia harapkan, awalnya ia marah, namun perlahan ia siap menerimanya, ia kembali lagi. Namun ternyata benih itu benih plin-plan sehingga ia malah memiliki dua identitas dan menjadi abnormal. Bebas terlihat tidak terima karena pohon ini tumbuh tidak seperti yang ia inginkan, dan sesungguhnya dia sadar bahwa itu terjadi karena kesalahannya sendiri, namun alam sadarnya tidak mau mengakuinya. Ini juga merepresentasikan seseorang dalam menghadapi aib. Seringkali ia menyalahkan pihak lain karena ada sesuatu yang membuatnya malu, padahal sesungguhnya hal itu terjadi karena dirinya sendiri. Point kedua : manusia selalu ingin hal yang diluar dirinya yang berubah demi dia. 

Maka dari itu, saya setuju dengan mereka yang mengatakan keanehan kenapa Bebas tidak berubah karakternya dari awal cerita hingga dewasa?
Karena ini sisi yang ingin saya angkat dari manusia, alih-alih mencoba untuk membuka diri, mereka seringkali menunjuk pihak lain sebagai penyebab ketidak bahagiaannya. Menyalahkan faktor lain, menyalahkan lingkungannya. Pada akhirnya, Bebas tidak menjadi apa-apa, karena "Pecundang sangat kaya akan alasan, sementara Juara terlalu sibuk untuk membuat alasan."

Beringin Mawar & Kakek
Kuharap, Kakek sudah jelas mensimbolkan sosok bijaksana dan baik, seperti misalnya Tuhan, atau juga Pendeta. Kakek saya coba gambarkan penuh pengharapan dan kesabaran, walau saya sadar sepenuhnya saat menuliskan si Kakek menampar Bebas hingga tuli sebelah (yah, sabar juga ada batasnya, kan?). Namun sesungguhnya peranana Kakek disini adalah sebagai simbol pengharapan dan kepantang menyerahan. Ia tahu sebaiknya ia tidak menyerah membajak sawah, karena ia berharap bahwa kelak dunia ini akan berubah. Benih unggulan itu telah ditunggunya sejak lama namun sayang sekali Bebas lebih dahulu menemukannya. Tapi karena dia cinta kebebasan, maka dia membiarkan Bebas melakukan apa yang ia mau. 

Apakah ini sudah sedikit banyak menjawab pertanyaan klasik teman-teman atheis; "Kalau Tuhan itu ada, kenapa ada kejahatan?"

Beringin Mawar menggambarkan ketangguhan manusia secara individu, berlawanan dengan Bebas yang menggambarkan sifat manusia secara sosial. Tidak merujuk pada individu tertentu, karena setiap dari kita sesungguhnya seunik Beringin Mawar, dan tentunya bisa setangguh Beringin Mawar. Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita semakin kuat. 

Bebas yang menanam benih di tanah bersampah dan buruk ini melambangkan bahwa seorang individu (Beringin Mawar) tidak bisa memilih dimana ia akan dilahirkan, ia harus siap dengan segala tantangan hidup yang dikondisikan terhadapnya. Maka bila seseorang pantang menyerah, ia pun bisa tumbuh di tempat tertandus sekalipun. Akar benih yang tumbuh dalam sehingga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bertunas merepresentasikan bahwa setiap orang selalu butuh waktu untuk tumbuh. Tidak peduli berapa lama yang ia butuhkan, yang manusia butuhkan hanyalah waktu. Maka dari itu, bersabarlah dalam tumbuh. Teruslah kembangkan akarmu untuk mencari "makanan" sehingga kau bisa bertunas.

Ada benarnya untuk seseorang yang mengatakan bahwa Bebas dan Kakek seperti ayah ibu. Tapi tidak hanya berlaku bagi seorang yang diharapkan lahir sebagai perempuan namun ternyata ia laki-laki. Ini juga berlaku dengan preferensi, orientasi dan cita-cita seseorang manusia yang kadang kala ditentang oleh keluarganya sendiri (Bebas). Ada seorang yang ingin menjadi Insinyur, namun keluarganya memaksanya sebagai dokter karena lebih mudah mendapatkan uang. Ada orang yang ingin menjadi penulis, namun keluarganya tidak setuju karena penulis itu hidupnya menyedihkan. 

Cita-cita adalah sesuatu yang menunjukkan jati dirimu. Setujulah pada orang yang mengatakan bahwa "jadikan hobimu sebagai pekerjaanmu, kau akan bermain sepanjang waktu.". Bisa dibilang, kau adalah apa yang kau lakukan.

Mengapa Bebas dibebaskan?
Terakhir, menanggapi pertanyaan yang sering kali muncul sehubungan dengan Bebas yang dibiarkan begitu saja, saya bermaksud untuk menekankan bahwa dalam hidup ini yang terpenting bukanlah karma, tapi apa yang kau lakukan bagi lingkunganmu. Biarkan dunia menentangmu, kau tidak perlu menunggu nasib buruk apa yang akan diterimanya. Bahkan saya rasa itu jahat karena setara dengan dendam. Tidak usah pedulikan mereka yang menyakitimu, biar mereka berkata apa, karena pada akhirnya, saat semua telah berakhir, urusan hanya ada antara kau dan Tuhan.

Akhir kata
Demikianlah respon saya terhadap respon-respon teman-teman tentang cerpen Beringin Mawar. Terima kasih karena telah membacanya dan menikmatinya. Sekalipun pada dasarnya saya mungkin menciptakan cerpen itu dengan konsep yang mungkin rumit, namun saya tetap membebaskan orang untuk berpendapat apa tentang cerpen ini. Mau dibilang ini cerpen anak-anak, terima kasih. Mau dibilang ini terlalu berat untuk anak-anak, terima kasih. Karena setiap respon dan interpretasi orang terhadap cerpen ini turut memperkaya makna cerpen Beringin Mawar.

Pada intinya, cerpen ini sesungguhnya memang ditulis sebagai alegori dan kritik serta motivasi. Jadi harap maklum andai ditemukan banyak kejanggalan di dalamnya.

Respon to responses : Beringin Mawar

Saja putuskan untuk menuliskan tanggapan dari respon orang-orang terhadap cerita Beringin Mawar di sini.

Cukup puas rasanya mengetahui beragam interpretasi orang mengenai cerpen saya ini. Ada yang sadar kalau ini alegori, ada yang terkesan, ada yang biasa-biasa aja, yang paling kocak adalah timbulnya gerakan Bebas Disamber Geledek. ROFL. Tapi perlu ditekankan bahwa tidak ada komentar yang salah, karena setiap orang benar atas cara pikir dan pengalamannya masing-masing. 

Saya ga mau mengganggu komentar yang diberikan dengan cara meralat atau mengkonfirmasi beberapa orang yang mengintepretasikan alegori itu, baik salah ataupun tepat di lapak Kasfan. Karena menyenangkan juga melihat beragam kesan orang terhadap cerita itu. Mau terima atau nggak, saya suka sekali membaca respon-respon orang terhadapnya, terutama karena saya jadi tahu sendiri cara berpikir seseorang dan cara seseorang memandang sesuatu. Apa subjektivitas para penulis itu. Menarik, bukan?

Dalam kasus inilah, "Kebenaran itu relatif" berlaku.

Pesan Sesungguhnya 
Cerita ini sesungguhnya adalah cerita tentang sabdha. Saya hendak menunjukkan betapa ampuhnya kata-kata itu yang seringkali disebut dengan "sugesti". Benih unggulan itu aslinya adalah benih mawar, yang kemudian Bebas mengatakan bahwa ia ingin beringin, maka dia jadi beringin. Tapi setelah tumbuh, Bebas mensabdhakan dia untuk menjadi mawar yang cantik. Maka benih ini terlihat bingung, "sebenernya saya ini ditakdirkan menjadi beringin atau mawar sih?" 

Setelah dia dibuang, dia dirawat oleh Kakek dan dibebaskan mau menjadi apa. Akhirnya ia tumbuh sebagai dua identitas, satu identitas aslinya dan yang kedua, identitas yang diinginkan bebas untuknya dahulu. Terakhir, Bebas berusaha membunuh Beringin Mawar, namun seperti kata Nietzsche; "Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu semakin kuat". Beringin Mawar terus bertambah kuat hingga akhirnya ia mati karena sabdha dari Bebas terhadapnya.

Terakhir, harapan Kakek terhadap Beringin Mawar bahwa benih ini mampu menghidupkan kembali tanah gersang, menjadi kenyataan karena ia mensabdhakannya seperti itu. Beringin Mawar membuahkan sebuah buah yang akhirnya mampu menurunkan hujan dan menghidupkan dunia seperti harapan Kakek. Semua adalah sabdha dan sugesti. Salah satu kekuatan terbesar di alam raya ini .... menurut saya.

Siapakah Bebas?
Bebas tidak lain adalah sebutan saya bagi manusia. 
Makanya ada yang bingung, kenapa namanya bebas, padahal kolot. Ya, karena dia representasi dari manusia, dan ini butuh penjelasan lebih biar gak dibilang kalau kesimpulan ini katanya; "bolong logika" (maksudnya : logical fallacy). Tapi hampir di setiap cerita-cerita yang kutulis, aku selalu menuliskan bahwa "manusia berasal dari pancaran cinta yang menitis ke dunia karena kebebasan.", manusia bagian dari cinta yang menitis ke dunia karena adanya kebebasan. Ini agak-agak menggunakan pengaruh dari filosofi Neo-Platonisme, jadi bila anda masih kesulitan memahaminya atau belum mengerti, coba dibaca saja Neo-Platonisme.

Bebas adalah representasi dari manusia, mereka memang adalah kebebasan, namun kebebasan yang mereka terapkan, sangat jarang dilakukan demi orang lain. Manusia selalu mengembalikan kebebasan menurut sudut pandangnya sendiri. Karena mereka bebas, maka mereka bebas berbuat apapun, jarang ada orang yang mencintai kebebasan lantas berpikiran terbuka. Tapi, ya, mereka bebas. Bukti dari kebebasan manusia adalah; dunia ini terbangun karena kritik.

Saya tidak bermaksud menciptakan karakter Bebas menjadi begitu menyebalkan atau dia ada untuk menjadi karakter yang disebelin. Justru sebenarnya Bebas adalah kritik saya untuk reaksi masyarakat terhadap perbedaan. Jujur saja deh, kalau melihat sesuatu yang aneh atau tidak wajar, reaksi orang pertama kali pasti adalah curiga. Orang gak suka dengan yang aneh-aneh dan melenceng dari aslinya. Sebut saja misalnya Michael Jackson, Lady Gaga, atau di bidang sains, seperti teori Copernicus, Galileo. Bahkan seorang dari Yunani (maaf saya lupa nama beliau), barangkali dia adalah seorang yang pertama kali sadar bahwa matahari adalah batu yang bercahaya. Dan karena itu dia dibenci dan dianggap pagan. Dan ada kejadian yang membuat saya begitu miris dan mengagungkan Sigmund Freud, adalah ketika orang-orang dengan personality disorder dianggap kerasukan setan dan dikucilkan dari masyarakatnya (bebas). Inilah potret masyarakat yang coba saya kritik melalui Bebas. Mereka memang bebas, tapi seringkali menerapkan kebebasan untuk dirinya sendiri sehingga akhirnya, mereka tidak membebaskan orang lain.

Contoh lain yang merepresentasikan Bebas adalah rasisme, fasisme, etnosentrisme, semua ini yang hendak saya kritik melalui Bebas. Manusia menerima perbedaan itu bullshit. Pada umumnya, manusia benci perbedaan, mereka mencari yang sama kemudian berkelompok. Karena mereka ingin menjadikan dunia tempat yang nyata bagi mereka, maka mereka berusaha menobatkan manusia lain yang berbeda menjadi sama dengan mereka. 

Dalam cerita, ada komentar yang sangat tepat mengenai Bebas, "I saw first, it's mine". 
Kemudian setelah benihnya tumbuh menjadi yang tidak ia harapkan, awalnya ia marah, namun perlahan ia siap menerimanya, ia kembali lagi. Namun ternyata benih itu benih plin-plan sehingga ia malah memiliki dua identitas dan menjadi abnormal. Bebas terlihat tidak terima karena pohon ini tumbuh tidak seperti yang ia inginkan, dan sesungguhnya dia sadar bahwa itu terjadi karena kesalahannya sendiri, namun alam sadarnya tidak mau mengakuinya. Ini juga merepresentasikan seseorang dalam menghadapi aib. Seringkali ia menyalahkan pihak lain karena ada sesuatu yang membuatnya malu, padahal sesungguhnya hal itu terjadi karena dirinya sendiri. Point kedua : manusia selalu ingin hal yang diluar dirinya yang berubah demi dia. 

Maka dari itu, saya setuju dengan mereka yang mengatakan keanehan kenapa Bebas tidak berubah karakternya dari awal cerita hingga dewasa?
Karena ini sisi yang ingin saya angkat dari manusia, alih-alih mencoba untuk membuka diri, mereka seringkali menunjuk pihak lain sebagai penyebab ketidak bahagiaannya. Menyalahkan faktor lain, menyalahkan lingkungannya. Pada akhirnya, Bebas tidak menjadi apa-apa, karena "Pecundang sangat kaya akan alasan, sementara Juara terlalu sibuk untuk membuat alasan."

Beringin Mawar & Kakek
Kuharap, Kakek sudah jelas mensimbolkan sosok bijaksana dan baik, seperti misalnya Tuhan, atau juga Pendeta. Kakek saya coba gambarkan penuh pengharapan dan kesabaran, walau saya sadar sepenuhnya saat menuliskan si Kakek menampar Bebas hingga tuli sebelah (yah, sabar juga ada batasnya, kan?). Namun sesungguhnya peranana Kakek disini adalah sebagai simbol pengharapan dan kepantang menyerahan. Ia tahu sebaiknya ia tidak menyerah membajak sawah, karena ia berharap bahwa kelak dunia ini akan berubah. Benih unggulan itu telah ditunggunya sejak lama namun sayang sekali Bebas lebih dahulu menemukannya. Tapi karena dia cinta kebebasan, maka dia membiarkan Bebas melakukan apa yang ia mau. 

Apakah ini sudah sedikit banyak menjawab pertanyaan klasik teman-teman atheis; "Kalau Tuhan itu ada, kenapa ada kejahatan?"

Beringin Mawar menggambarkan ketangguhan manusia secara individu, berlawanan dengan Bebas yang menggambarkan sifat manusia secara sosial. Tidak merujuk pada individu tertentu, karena setiap dari kita sesungguhnya seunik Beringin Mawar, dan tentunya bisa setangguh Beringin Mawar. Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita semakin kuat. 

Bebas yang menanam benih di tanah bersampah dan buruk ini melambangkan bahwa seorang individu (Beringin Mawar) tidak bisa memilih dimana ia akan dilahirkan, ia harus siap dengan segala tantangan hidup yang dikondisikan terhadapnya. Maka bila seseorang pantang menyerah, ia pun bisa tumbuh di tempat tertandus sekalipun. Akar benih yang tumbuh dalam sehingga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bertunas merepresentasikan bahwa setiap orang selalu butuh waktu untuk tumbuh. Tidak peduli berapa lama yang ia butuhkan, yang manusia butuhkan hanyalah waktu. Maka dari itu, bersabarlah dalam tumbuh. Teruslah kembangkan akarmu untuk mencari "makanan" sehingga kau bisa bertunas.

Ada benarnya untuk seseorang yang mengatakan bahwa Bebas dan Kakek seperti ayah ibu. Tapi tidak hanya berlaku bagi seorang yang diharapkan lahir sebagai perempuan namun ternyata ia laki-laki. Ini juga berlaku dengan preferensi, orientasi dan cita-cita seseorang manusia yang kadang kala ditentang oleh keluarganya sendiri (Bebas). Ada seorang yang ingin menjadi Insinyur, namun keluarganya memaksanya sebagai dokter karena lebih mudah mendapatkan uang. Ada orang yang ingin menjadi penulis, namun keluarganya tidak setuju karena penulis itu hidupnya menyedihkan. 

Cita-cita adalah sesuatu yang menunjukkan jati dirimu. Setujulah pada orang yang mengatakan bahwa "jadikan hobimu sebagai pekerjaanmu, kau akan bermain sepanjang waktu.". Bisa dibilang, kau adalah apa yang kau lakukan.

Mengapa Bebas dibebaskan?
Terakhir, menanggapi pertanyaan yang sering kali muncul sehubungan dengan Bebas yang dibiarkan begitu saja, saya bermaksud untuk menekankan bahwa dalam hidup ini yang terpenting bukanlah karma, tapi apa yang kau lakukan bagi lingkunganmu. Biarkan dunia menentangmu, kau tidak perlu menunggu nasib buruk apa yang akan diterimanya. Bahkan saya rasa itu jahat karena setara dengan dendam. Tidak usah pedulikan mereka yang menyakitimu, biar mereka berkata apa, karena pada akhirnya, saat semua telah berakhir, urusan hanya ada antara kau dan Tuhan.

Akhir kata
Demikianlah respon saya terhadap respon-respon teman-teman tentang cerpen Beringin Mawar. Terima kasih karena telah membacanya dan menikmatinya. Sekalipun pada dasarnya saya mungkin menciptakan cerpen itu dengan konsep yang mungkin rumit, namun saya tetap membebaskan orang untuk berpendapat apa tentang cerpen ini. Mau dibilang ini cerpen anak-anak, terima kasih. Mau dibilang ini terlalu berat untuk anak-anak, terima kasih. Karena setiap respon dan interpretasi orang terhadap cerpen ini turut memperkaya makna cerpen Beringin Mawar.

Pada intinya, cerpen ini sesungguhnya memang ditulis sebagai alegori dan kritik serta motivasi. Jadi harap maklum andai ditemukan banyak kejanggalan di dalamnya.

Selasa, 26 Juni 2012

Bila Anda suka Logika ...



Saya sarankan untuk membaca buku Alex Lanur atau Gilarso & Poespoprodjo. Mereka banyak menulis tentang logika dasar. Silakan dibaca biar ngritiknya makin mantep ....


Bila Anda suka Logika ...



Saya sarankan untuk membaca buku Alex Lanur atau Gilarso & Poespoprodjo. Mereka banyak menulis tentang logika dasar. Silakan dibaca biar ngritiknya makin mantep ....


Naskah : Takdir Bintang Merah


Pada awalnya saya ingin menulis sesuatu yang mudah diterima sekalian mencoba untuk mempopulerkan genre fantasi. Maka dari itu saya ingin menulis sebuah Romance Fantasy.

Plot awalnya sebenarnya adalah seorang pengendara Dragon yang tersesat dan terdampar di sebuah tempat terpencil dan jatuh cinta pada seorang gadis yang baru saja putus dengan tunangannya. Alam fantasi di dalam plot cerita ini adalah si pengendara Dragon ini adalah seorang pengguna tenaga dalam warna ilusi.

tapi karena terlalu ringan dan saya jadi bosan sendiri, maka saya putuskan untuk menambahkan ini itu dan akhirnya malah jadi cerita yang relatif berat dan ujung2nya malah ngomongin strategi. (Yahhh ...) ya sudah akhirnya malah jadi bikin cerita fantasi baru.





Dunianya bernuansa Hindu dan sansekerta. Untuk wilayah Mandilig, agak spesial karena menggunakan nama-nama dari Sunda dan Jawa tengah. beberapa nama dan term mengolah dari bahasa Filiphina (karena menurut saya Filipina dan Indonesia cukup dekat rumpunnya). Sekalipun ada beberapa nama karakter sudah saya ganti, itu semua bertujuan demi semacam netralisir, agar tidak menyinggung pihak tertentu.

Keunggulan naskah ini dari kacamata saya sebagai penulisnya adalah, ia memiliki unsur filosofis, kritik terhadap fasisme, dan jaringan romance yang saya katakan cukup rumit. Penting untuk saya tekankan bahwa fasisme yang saya kritik dalam naskah ini tidak menunjuk pada golongan tertentu, namun lebih kepada sebuah kritk terhadap sisi gelap manusiawi. 

Sepanjang saya mengamati dunia ini, ternyata fasisme tidak hanya melulu tentang agama atau politik, tapi juga idealisme, ideologi. Apabila seorang manusia percaya akan sesuatu, ia akan memegangnya teguh dan berusaha untuk mempertahankan keabadiannya. Karena saat manusia mencintai, ia ingin hal yang dicintainya itu menjadi abadi. Inilah yang saya rasa menjadi dasar sebuah perilaku fasis. Maka dari itulah, tidak jarang fasisme juga dapat ditemui di kalangan fanboy-fangirl, dan bila anda suka pairing ship antara tokoh-tokoh rekaan di tv show, anda bisa menemui beberapa orang yang suka pairing yang sekalipun mungkin tidak dipair oleh penciptanya seperti Sanji-Nami, Zoro-Nami, atau Zuko-Katara. Mereka yang fasisnya sudah benar-benar kental, bisa saja benar-benar percaya bahwa Sanji-Nami memang benar-benar dipasangkan oleh Odachi dan Zuko-Katara memang sebenarnya dipasangkan oleh Bryan & Mike. Inilah fasisme yang hendak saya kritik : fasisme sebagai sisi gelap manusia, merasa yakin bahwa ideologi yang ia anut paling benar dan orang lain harus menurutinya. Yang melawan berarti musuh dan harus mati (ini behavior yang sering saya temukan di fandom Kataang dan Maiko dari Avatar). Tidak hanya melulu soal terorisme berkedok agama.

Saat saya menuliskan blog ini, saya sudah sampai pada chapter 18, semakin mendekati bagian akhir dari cerita. Cerita ini awal dirancang pada saat liburan semester 2 dimulai dan saya tidak menyangka akan menghabiskan liburan semester ini dengan menulis naskah tentang kritik terhadap fasisme. Oh ya, selain dari kritik terhadap fasisme itu, saya juga memiliki pesan lain mengenai takdir dan cinta. Semua saya sertakan di dalam naskah ini, dan semoga dalam penyampaiannya tidak terkesan menggurui. Apapun ideologi saya, sudah saya usahakan untuk menulisnya secara terbuka sehingga setiap orang bebas akan menyimpulkan apa.

Kutipan-kutipan : 

“...Kejam sekali Brahma kalau begitu. Ia telah menggariskan seseorang lahir untuk mati sia-sia. Untuk apa dia hidup? Bukankah katanya Brahma itu Maha Pengasih,..."

" … inilah kebenaran subjektif. Ia memperkaya kebenaran objektif. Tidak dapat disalahkan karena ia seperti cermin yang memantulkan salah satu sisi dari satu objek."

“Hei, Baladitya, … apabila ayah kandungmu menyuruhmu membunuh orang yang tidak berdosa hanya karena ia suka melihat orang tidak berdosa itu mati, apakah dengan melaksanakannya maka kau menjadi anak teladan dan dosamu tidak menjadi dosa? ..."

"Satu hal yang pasti; kita semua berasal dari latar belakang yang beragam. Kita, Lanun, Dwarapala, … dan Ksatriya. Kita pun berlatih selama ini dengan disiplin khas masing-masing dan membuktikan bahwa keberagaman ada untuk saling melengkapi."

"Engkau telah kehilangan cinta dalam hidupmu. Tapi ketahuilah. Cinta adalah sebongkah energi positif yang sangat kuat. Ia selalu ada di sekitarmu dan tinggal bersamamu. Ketika satu bentuk cinta telah menghilang lepas dari hidupmu bagai asap yang tak tergenggam lagi … ia akan terlahir kembali dalam bentuk lain …”



“Aku suka Kiran … aku ingin terus bersamanya, bukankah itu menguntungkanku bila mengantarkan kalian ke Ebla?”

Naskah : Takdir Bintang Merah


Pada awalnya saya ingin menulis sesuatu yang mudah diterima sekalian mencoba untuk mempopulerkan genre fantasi. Maka dari itu saya ingin menulis sebuah Romance Fantasy.

Plot awalnya sebenarnya adalah seorang pengendara Dragon yang tersesat dan terdampar di sebuah tempat terpencil dan jatuh cinta pada seorang gadis yang baru saja putus dengan tunangannya. Alam fantasi di dalam plot cerita ini adalah si pengendara Dragon ini adalah seorang pengguna tenaga dalam warna ilusi.

tapi karena terlalu ringan dan saya jadi bosan sendiri, maka saya putuskan untuk menambahkan ini itu dan akhirnya malah jadi cerita yang relatif berat dan ujung2nya malah ngomongin strategi. (Yahhh ...) ya sudah akhirnya malah jadi bikin cerita fantasi baru.





Dunianya bernuansa Hindu dan sansekerta. Untuk wilayah Mandilig, agak spesial karena menggunakan nama-nama dari Sunda dan Jawa tengah. beberapa nama dan term mengolah dari bahasa Filiphina (karena menurut saya Filipina dan Indonesia cukup dekat rumpunnya). Sekalipun ada beberapa nama karakter sudah saya ganti, itu semua bertujuan demi semacam netralisir, agar tidak menyinggung pihak tertentu.

Keunggulan naskah ini dari kacamata saya sebagai penulisnya adalah, ia memiliki unsur filosofis, kritik terhadap fasisme, dan jaringan romance yang saya katakan cukup rumit. Penting untuk saya tekankan bahwa fasisme yang saya kritik dalam naskah ini tidak menunjuk pada golongan tertentu, namun lebih kepada sebuah kritk terhadap sisi gelap manusiawi. 

Sepanjang saya mengamati dunia ini, ternyata fasisme tidak hanya melulu tentang agama atau politik, tapi juga idealisme, ideologi. Apabila seorang manusia percaya akan sesuatu, ia akan memegangnya teguh dan berusaha untuk mempertahankan keabadiannya. Karena saat manusia mencintai, ia ingin hal yang dicintainya itu menjadi abadi. Inilah yang saya rasa menjadi dasar sebuah perilaku fasis. Maka dari itulah, tidak jarang fasisme juga dapat ditemui di kalangan fanboy-fangirl, dan bila anda suka pairing ship antara tokoh-tokoh rekaan di tv show, anda bisa menemui beberapa orang yang suka pairing yang sekalipun mungkin tidak dipair oleh penciptanya seperti Sanji-Nami, Zoro-Nami, atau Zuko-Katara. Mereka yang fasisnya sudah benar-benar kental, bisa saja benar-benar percaya bahwa Sanji-Nami memang benar-benar dipasangkan oleh Odachi dan Zuko-Katara memang sebenarnya dipasangkan oleh Bryan & Mike. Inilah fasisme yang hendak saya kritik : fasisme sebagai sisi gelap manusia, merasa yakin bahwa ideologi yang ia anut paling benar dan orang lain harus menurutinya. Yang melawan berarti musuh dan harus mati (ini behavior yang sering saya temukan di fandom Kataang dan Maiko dari Avatar). Tidak hanya melulu soal terorisme berkedok agama.

Saat saya menuliskan blog ini, saya sudah sampai pada chapter 18, semakin mendekati bagian akhir dari cerita. Cerita ini awal dirancang pada saat liburan semester 2 dimulai dan saya tidak menyangka akan menghabiskan liburan semester ini dengan menulis naskah tentang kritik terhadap fasisme. Oh ya, selain dari kritik terhadap fasisme itu, saya juga memiliki pesan lain mengenai takdir dan cinta. Semua saya sertakan di dalam naskah ini, dan semoga dalam penyampaiannya tidak terkesan menggurui. Apapun ideologi saya, sudah saya usahakan untuk menulisnya secara terbuka sehingga setiap orang bebas akan menyimpulkan apa.

Kutipan-kutipan : 

“...Kejam sekali Brahma kalau begitu. Ia telah menggariskan seseorang lahir untuk mati sia-sia. Untuk apa dia hidup? Bukankah katanya Brahma itu Maha Pengasih,..."

" … inilah kebenaran subjektif. Ia memperkaya kebenaran objektif. Tidak dapat disalahkan karena ia seperti cermin yang memantulkan salah satu sisi dari satu objek."

“Hei, Baladitya, … apabila ayah kandungmu menyuruhmu membunuh orang yang tidak berdosa hanya karena ia suka melihat orang tidak berdosa itu mati, apakah dengan melaksanakannya maka kau menjadi anak teladan dan dosamu tidak menjadi dosa? ..."

"Satu hal yang pasti; kita semua berasal dari latar belakang yang beragam. Kita, Lanun, Dwarapala, … dan Ksatriya. Kita pun berlatih selama ini dengan disiplin khas masing-masing dan membuktikan bahwa keberagaman ada untuk saling melengkapi."

"Engkau telah kehilangan cinta dalam hidupmu. Tapi ketahuilah. Cinta adalah sebongkah energi positif yang sangat kuat. Ia selalu ada di sekitarmu dan tinggal bersamamu. Ketika satu bentuk cinta telah menghilang lepas dari hidupmu bagai asap yang tak tergenggam lagi … ia akan terlahir kembali dalam bentuk lain …”



“Aku suka Kiran … aku ingin terus bersamanya, bukankah itu menguntungkanku bila mengantarkan kalian ke Ebla?”

Kamis, 21 Juni 2012

Secuil Opini mengenai Post-Modernisme


Mudskipper. Ikan amphibi yang banyak terdapat di wilayah tropis. Barangkali bila diminta untuk memberikan satu ikon bagi era post-modernisme, saya akan mengajukan ikan ini sebagai maskot. Tidak hanya dapat keluar dari perairan, ia dapat memanjat pohon. Jadi kelak kalau era post-modernisme ini sudah lewat dan orang-orang di masa depan itu hendak mengklasifikasikan, merangkum dan menyimbolkan era ini, Mudskipper, voteku satu untuk kamu.

"Bila kau menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya untuk memanjat pohon, ia akan menghabiskan seumur hidupnya untuk percaya bahwa ia bodoh."
--Albert Einstein

Dalam Post-Modernisme, tidak ada kebenaran yang pasti. Kebebasan berpikir, berpendapat, beropini, berawal darikritik terhadap pemikiran modernisme yang relatif searah. Eksistensialisme menjadi landasan bagi Post-Modernisme. Ia adalah aliran yang mengutamakan keindividualismean seseorang, dan peranannya sebagai seseorang di dunia ini.

“Sooner or later I will die. But I won’t die because of a gun. Not because of my disease. Not because I ate a mushroom! I won’t die because of a sword! I won’t die against anything that you can do to me! I will die when people forget about me.”
—Dr Hiluluk, One Piece (Eiichiro Oda)

Memijak fondasi Heidegger, bagi Kiergaard, manusia bisa jadi individu yang autentik bila memiliki gairah, keterlibatan dan komitmen pribadi dalam kehidupan (afektivitas). Bagi Nietzche, manusia bisa menjadi unggul saat ia bisa meralisasikan dirinya secara jujur dan berani (subjektivitas).
Bagi Satre, manusia harus membangun keberadaannya secara terus menerus (historisitas/transendensi).

Pemikiran Post-Modernisme merupakan kritik epistemologis atas weltanschauugen yang menyangkut liberalisme, marxisme, scientisme, dan positivisme. Secara garis besar begitu berlawanan dengan kehidupan dan pandangan modernisme hingga memengaruhi kultur, alam pikiran, kebudayaan dan lain-lainnya.

Contoh tersimpel mengenai bukti kita sedang hidup dalam era Post-Modernisme adalah saat kita menonton film atau membaca cerpen dimana pada endingnya diceritakan secara menggantung atau tidak jelas. Kesimpulan dan pesan-pesan moral atau hikmah di dalamnya, diserahkan pada para penonton untuk menilai sendiri apa yang sedang terjadi, apa yang akan disampaikan oleh cerita tersebut. 

Tidak ada kebenaran mutlak, semuanya relatif. Subjektif. Kebenaran selalu berkembang.
Filsafat yang dahulu menjadi topik pembicaraan penting dan berat, kini dapat dibicarakan di kafe sebagai gosip atau lelucon. Lifestyle berubah menjadi kuantitas lebih penting daripada kualitas. Universal jadi partikular. Slice of life menjadi begitu menarik. Idealis menjadi prularis. Deterministic form menjadi semiotic form. 

"Modernisme, kau sudah berlalu."

Apakah kelak orang akan menyebut "Modernisme" sebagai era sains dan "Post-Modernisme" sebagai era entertainment?

Secuil Opini mengenai Post-Modernisme


Mudskipper. Ikan amphibi yang banyak terdapat di wilayah tropis. Barangkali bila diminta untuk memberikan satu ikon bagi era post-modernisme, saya akan mengajukan ikan ini sebagai maskot. Tidak hanya dapat keluar dari perairan, ia dapat memanjat pohon. Jadi kelak kalau era post-modernisme ini sudah lewat dan orang-orang di masa depan itu hendak mengklasifikasikan, merangkum dan menyimbolkan era ini, Mudskipper, voteku satu untuk kamu.

"Bila kau menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya untuk memanjat pohon, ia akan menghabiskan seumur hidupnya untuk percaya bahwa ia bodoh."
--Albert Einstein

Dalam Post-Modernisme, tidak ada kebenaran yang pasti. Kebebasan berpikir, berpendapat, beropini, berawal darikritik terhadap pemikiran modernisme yang relatif searah. Eksistensialisme menjadi landasan bagi Post-Modernisme. Ia adalah aliran yang mengutamakan keindividualismean seseorang, dan peranannya sebagai seseorang di dunia ini.

“Sooner or later I will die. But I won’t die because of a gun. Not because of my disease. Not because I ate a mushroom! I won’t die because of a sword! I won’t die against anything that you can do to me! I will die when people forget about me.”
—Dr Hiluluk, One Piece (Eiichiro Oda)

Memijak fondasi Heidegger, bagi Kiergaard, manusia bisa jadi individu yang autentik bila memiliki gairah, keterlibatan dan komitmen pribadi dalam kehidupan (afektivitas). Bagi Nietzche, manusia bisa menjadi unggul saat ia bisa meralisasikan dirinya secara jujur dan berani (subjektivitas).
Bagi Satre, manusia harus membangun keberadaannya secara terus menerus (historisitas/transendensi).

Pemikiran Post-Modernisme merupakan kritik epistemologis atas weltanschauugen yang menyangkut liberalisme, marxisme, scientisme, dan positivisme. Secara garis besar begitu berlawanan dengan kehidupan dan pandangan modernisme hingga memengaruhi kultur, alam pikiran, kebudayaan dan lain-lainnya.

Contoh tersimpel mengenai bukti kita sedang hidup dalam era Post-Modernisme adalah saat kita menonton film atau membaca cerpen dimana pada endingnya diceritakan secara menggantung atau tidak jelas. Kesimpulan dan pesan-pesan moral atau hikmah di dalamnya, diserahkan pada para penonton untuk menilai sendiri apa yang sedang terjadi, apa yang akan disampaikan oleh cerita tersebut. 

Tidak ada kebenaran mutlak, semuanya relatif. Subjektif. Kebenaran selalu berkembang.
Filsafat yang dahulu menjadi topik pembicaraan penting dan berat, kini dapat dibicarakan di kafe sebagai gosip atau lelucon. Lifestyle berubah menjadi kuantitas lebih penting daripada kualitas. Universal jadi partikular. Slice of life menjadi begitu menarik. Idealis menjadi prularis. Deterministic form menjadi semiotic form. 

"Modernisme, kau sudah berlalu."

Apakah kelak orang akan menyebut "Modernisme" sebagai era sains dan "Post-Modernisme" sebagai era entertainment?

Surat Cinta


Kita adalah pancaran-pancaran kebebasan dari Cinta yang menitis ke dunia materi. Maka dari itu tidak perlu skeptisisme untuk meragukan darimana asal cinta dalam diri kita. Secara apriori, aku tahu bahwa kelak aku akan bertemu dengan sesosok pengada yang bermateri sebaik dirimu, semenawan dirimu. Kini aposteriori telah membuktikan bahwa materiku melihat materimu, namun tampaknya bukan materi yang menimbulkan afektivitas positifku terhadapmu.

Saat subjek berafektivitas positif terhadap subjek lainnya, cinta telah menjadi objek. Aku suka ucapan yang keluar dari materimu, aku juga suka dengan segala aktivitas yang dilakukan oleh rohmu … tampaknya rohku telah terpikat pada rohmu. Kini rohku bernyanyi dalam sebuah surat afektivitas positif yang dikuasai oleh sebentuk cinta kebaikan hati yang menjadikan cinta utilitaris menjadi begitu tampak adanya.

Kini ruang kerja rohku telah dikuasai oleh setiap gambaran tentang apa saja yang telah dilakukan oleh rohmu. Eksistensimu menjadi nyata di dalam interioritasku, dan membuat rohku ingin bernyanyi demi melihat seulas senyum terbias pada materimu. Tampaknya kau telah berhasil mengacaukan kinerja pecut rasio ku sehingga kuda epithumeaku menjadi mabuk dan menjadi begitu sulit kukendalikan sekarang. Maka tolong dimaafkan apabila rohku membuat materiku terlihat tidak rasional, dan logikaku menjadi tidak valid.

Sungguh sedih mengetahui bahwa rohku hanya bisa menyatakan diri dalam ada yang sederhana ini, semoga kesadaranmu tidak peka sehingga tidak menyadari bahwa surat ini kutulis untuk rohmu. Karena, toh, cinta hanyalah seberkas ilusi material yang hanya bertahan sepanjang dua jiwa saling terikat dalam satu segitiga cinta. Dan rohku sendiripun tidak berniat untuk mengakui sebongkah epithumea ini, dan thumosku sibuk memarahinya agar diam dan kembali tenang.

Surat Cinta


Kita adalah pancaran-pancaran kebebasan dari Cinta yang menitis ke dunia materi. Maka dari itu tidak perlu skeptisisme untuk meragukan darimana asal cinta dalam diri kita. Secara apriori, aku tahu bahwa kelak aku akan bertemu dengan sesosok pengada yang bermateri sebaik dirimu, semenawan dirimu. Kini aposteriori telah membuktikan bahwa materiku melihat materimu, namun tampaknya bukan materi yang menimbulkan afektivitas positifku terhadapmu.

Saat subjek berafektivitas positif terhadap subjek lainnya, cinta telah menjadi objek. Aku suka ucapan yang keluar dari materimu, aku juga suka dengan segala aktivitas yang dilakukan oleh rohmu … tampaknya rohku telah terpikat pada rohmu. Kini rohku bernyanyi dalam sebuah surat afektivitas positif yang dikuasai oleh sebentuk cinta kebaikan hati yang menjadikan cinta utilitaris menjadi begitu tampak adanya.

Kini ruang kerja rohku telah dikuasai oleh setiap gambaran tentang apa saja yang telah dilakukan oleh rohmu. Eksistensimu menjadi nyata di dalam interioritasku, dan membuat rohku ingin bernyanyi demi melihat seulas senyum terbias pada materimu. Tampaknya kau telah berhasil mengacaukan kinerja pecut rasio ku sehingga kuda epithumeaku menjadi mabuk dan menjadi begitu sulit kukendalikan sekarang. Maka tolong dimaafkan apabila rohku membuat materiku terlihat tidak rasional, dan logikaku menjadi tidak valid.

Sungguh sedih mengetahui bahwa rohku hanya bisa menyatakan diri dalam ada yang sederhana ini, semoga kesadaranmu tidak peka sehingga tidak menyadari bahwa surat ini kutulis untuk rohmu. Karena, toh, cinta hanyalah seberkas ilusi material yang hanya bertahan sepanjang dua jiwa saling terikat dalam satu segitiga cinta. Dan rohku sendiripun tidak berniat untuk mengakui sebongkah epithumea ini, dan thumosku sibuk memarahinya agar diam dan kembali tenang.