Minggu, 22 Juli 2012

Bagaimana Saya Memandang Sebuah Cerita

Banyak orang mengira saya hanya mencari sisi filosofis dalam sebuah cerita.

Saya oke-oke saja dengan anggapan itu, selama yang dimaksud dengan "sisi filosofis" itu bukan sesederhana "pesan moral". Memang saya mencari filsafat dari sebuah cerita, tapi filsafat yang dimaksudkan adalah "hakikat". Tapi berhubung afektivitas sangat subjektif, maka hakikat yang saya tarik dari sebuah karya tentu saja tidak bersifat objektif. Bagaimanapun juga karya intelektual sendiripun tercipta dari afektivitas yang sifatnya sangat subjektif, maka hampir tidak mungkin memujanya dengan penuh secara objektif.

Jadi, bila saya pikir cerita itu memiliki plot lemah namun sangat kuat di diksi dan prosa, maka hakikat cerita itu adalah untuk mengumbar kata-kata indah nan mendayu-dayu yang mampu memancing emosi dan perasaan. Bila cerita itu hendak menampilkan sebuah ideologi mengenai cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka itulah filsafatnya, cara pandang penulisnya.

Melihat unsur filosofi dalam sebuah cerita bukan berarti melihat pesan moral. Pesan moral lebih ke arah kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan ideologi seseorang. Sedangkan melihat sisi filosofi dari sebuah cerita berarti melihat isi hakikat cerita itu, apa bentuk sejati dari cerita itu. Ide di balik cerita itu, dan untuk apa cerita itu ditulis.

Sayangnya tidak semua orang paham apa itu filsafat sehingga mereka lantas terkesan menyamakannya dengan "pesan moral"