Tampilkan postingan dengan label kritikus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kritikus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juli 2012

Sedikit tentang Komentar Subjektif dan Objektif

Awalnya akan saya permudah saja. 
Objektif adalah sebuah pendapat yang seperti ini : cerita anda ada ininya.
Subjektif adalah sebuah pendapat yang seperti ini : (menurut saya) cerita anda ada ininya

Yang repot adalah bila sebuah pendapat subjektif, dikira objektif, misalnya : "Lah, faktanya, cerita anda jelek, kok. Buktinya tuh lihat, ga ada yang baca kan?"

Padahal sesungguhnya fakta yang ia berikan sebagai bukti sangat lemah, terutama apabila dinilai dari jumlah komentar dan hit rate dalam bagan statistik arus internet. Karena tidak ada yang komentar bukan berarti ceritanya jelek. Hit rate yang rendah bukan berarti ceritanya jelek. Tidak ada komentar yang masuk bisa saja menandakan tidak ada yang memahami cerita itu sehingga tidak ada yang bisa berkomentar apapun. Sementara hit rate yang rendah bisa saja terjadi karena judulnya kurang menarik.

Pokoknya apapun yang berbau relatif (cantik, baik, berat, susah, mudah, dll ... bahkan adil) itu sifatnya pasti subjektif. 

Objektif adalah sesuatu yang empiris. Untuk itu mari saya jelaskan maksud saya dengan empiris terlebih dahulu untuk menghindari kesalah-pahaman yang mungkin bisa terjadi. Empiris adalah sesuatu yang dapat dibuktikan kenyataannya. Saking benarnya sampai-sampai sesuatu yang empiris bisa membuat seseorang "meramal". Contoh : fisika, kimia, dan ilmu-ilmu pasti lainnya. 1 + 1 = 2 secara matematika itu adalah empiris. Maka dari itu seseorang dapat menebak bila ada satu orang di dalam ruangan, dan jika ada satu orang lagi yang masuk ke dalam ruangan yang sama, maka jumlah orang di ruangan itu seharusnya menjadi dua. Itu adalah empiris.

Komentar objektif biasanya mengacu pada kesalahan EYD atau ejaan. Maka dari itu sesungguhnya komentar objektif adalah komentar yang disukai? Belum tentu. Justru tampaknya komentar yang paling disukai adalah komentar yang sangat subjektif, namun subjektivitasnya sangat sejalan dengan si penulis. Maka dari itulah, penulis yang paling bahagia adalah penulis yang karyanya dapat dipahami oleh pembacanya karena maksud yang hendak ia sampaikan, dapat diterima dengan baik oleh pembacanya.

Sedikit tentang Komentar Subjektif dan Objektif

Awalnya akan saya permudah saja. 
Objektif adalah sebuah pendapat yang seperti ini : cerita anda ada ininya.
Subjektif adalah sebuah pendapat yang seperti ini : (menurut saya) cerita anda ada ininya

Yang repot adalah bila sebuah pendapat subjektif, dikira objektif, misalnya : "Lah, faktanya, cerita anda jelek, kok. Buktinya tuh lihat, ga ada yang baca kan?"

Padahal sesungguhnya fakta yang ia berikan sebagai bukti sangat lemah, terutama apabila dinilai dari jumlah komentar dan hit rate dalam bagan statistik arus internet. Karena tidak ada yang komentar bukan berarti ceritanya jelek. Hit rate yang rendah bukan berarti ceritanya jelek. Tidak ada komentar yang masuk bisa saja menandakan tidak ada yang memahami cerita itu sehingga tidak ada yang bisa berkomentar apapun. Sementara hit rate yang rendah bisa saja terjadi karena judulnya kurang menarik.

Pokoknya apapun yang berbau relatif (cantik, baik, berat, susah, mudah, dll ... bahkan adil) itu sifatnya pasti subjektif. 

Objektif adalah sesuatu yang empiris. Untuk itu mari saya jelaskan maksud saya dengan empiris terlebih dahulu untuk menghindari kesalah-pahaman yang mungkin bisa terjadi. Empiris adalah sesuatu yang dapat dibuktikan kenyataannya. Saking benarnya sampai-sampai sesuatu yang empiris bisa membuat seseorang "meramal". Contoh : fisika, kimia, dan ilmu-ilmu pasti lainnya. 1 + 1 = 2 secara matematika itu adalah empiris. Maka dari itu seseorang dapat menebak bila ada satu orang di dalam ruangan, dan jika ada satu orang lagi yang masuk ke dalam ruangan yang sama, maka jumlah orang di ruangan itu seharusnya menjadi dua. Itu adalah empiris.

Komentar objektif biasanya mengacu pada kesalahan EYD atau ejaan. Maka dari itu sesungguhnya komentar objektif adalah komentar yang disukai? Belum tentu. Justru tampaknya komentar yang paling disukai adalah komentar yang sangat subjektif, namun subjektivitasnya sangat sejalan dengan si penulis. Maka dari itulah, penulis yang paling bahagia adalah penulis yang karyanya dapat dipahami oleh pembacanya karena maksud yang hendak ia sampaikan, dapat diterima dengan baik oleh pembacanya.

Kamis, 05 Juli 2012

Respon to responses : Beringin Mawar

Saja putuskan untuk menuliskan tanggapan dari respon orang-orang terhadap cerita Beringin Mawar di sini.

Cukup puas rasanya mengetahui beragam interpretasi orang mengenai cerpen saya ini. Ada yang sadar kalau ini alegori, ada yang terkesan, ada yang biasa-biasa aja, yang paling kocak adalah timbulnya gerakan Bebas Disamber Geledek. ROFL. Tapi perlu ditekankan bahwa tidak ada komentar yang salah, karena setiap orang benar atas cara pikir dan pengalamannya masing-masing. 

Saya ga mau mengganggu komentar yang diberikan dengan cara meralat atau mengkonfirmasi beberapa orang yang mengintepretasikan alegori itu, baik salah ataupun tepat di lapak Kasfan. Karena menyenangkan juga melihat beragam kesan orang terhadap cerita itu. Mau terima atau nggak, saya suka sekali membaca respon-respon orang terhadapnya, terutama karena saya jadi tahu sendiri cara berpikir seseorang dan cara seseorang memandang sesuatu. Apa subjektivitas para penulis itu. Menarik, bukan?

Dalam kasus inilah, "Kebenaran itu relatif" berlaku.

Pesan Sesungguhnya 
Cerita ini sesungguhnya adalah cerita tentang sabdha. Saya hendak menunjukkan betapa ampuhnya kata-kata itu yang seringkali disebut dengan "sugesti". Benih unggulan itu aslinya adalah benih mawar, yang kemudian Bebas mengatakan bahwa ia ingin beringin, maka dia jadi beringin. Tapi setelah tumbuh, Bebas mensabdhakan dia untuk menjadi mawar yang cantik. Maka benih ini terlihat bingung, "sebenernya saya ini ditakdirkan menjadi beringin atau mawar sih?" 

Setelah dia dibuang, dia dirawat oleh Kakek dan dibebaskan mau menjadi apa. Akhirnya ia tumbuh sebagai dua identitas, satu identitas aslinya dan yang kedua, identitas yang diinginkan bebas untuknya dahulu. Terakhir, Bebas berusaha membunuh Beringin Mawar, namun seperti kata Nietzsche; "Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu semakin kuat". Beringin Mawar terus bertambah kuat hingga akhirnya ia mati karena sabdha dari Bebas terhadapnya.

Terakhir, harapan Kakek terhadap Beringin Mawar bahwa benih ini mampu menghidupkan kembali tanah gersang, menjadi kenyataan karena ia mensabdhakannya seperti itu. Beringin Mawar membuahkan sebuah buah yang akhirnya mampu menurunkan hujan dan menghidupkan dunia seperti harapan Kakek. Semua adalah sabdha dan sugesti. Salah satu kekuatan terbesar di alam raya ini .... menurut saya.

Siapakah Bebas?
Bebas tidak lain adalah sebutan saya bagi manusia. 
Makanya ada yang bingung, kenapa namanya bebas, padahal kolot. Ya, karena dia representasi dari manusia, dan ini butuh penjelasan lebih biar gak dibilang kalau kesimpulan ini katanya; "bolong logika" (maksudnya : logical fallacy). Tapi hampir di setiap cerita-cerita yang kutulis, aku selalu menuliskan bahwa "manusia berasal dari pancaran cinta yang menitis ke dunia karena kebebasan.", manusia bagian dari cinta yang menitis ke dunia karena adanya kebebasan. Ini agak-agak menggunakan pengaruh dari filosofi Neo-Platonisme, jadi bila anda masih kesulitan memahaminya atau belum mengerti, coba dibaca saja Neo-Platonisme.

Bebas adalah representasi dari manusia, mereka memang adalah kebebasan, namun kebebasan yang mereka terapkan, sangat jarang dilakukan demi orang lain. Manusia selalu mengembalikan kebebasan menurut sudut pandangnya sendiri. Karena mereka bebas, maka mereka bebas berbuat apapun, jarang ada orang yang mencintai kebebasan lantas berpikiran terbuka. Tapi, ya, mereka bebas. Bukti dari kebebasan manusia adalah; dunia ini terbangun karena kritik.

Saya tidak bermaksud menciptakan karakter Bebas menjadi begitu menyebalkan atau dia ada untuk menjadi karakter yang disebelin. Justru sebenarnya Bebas adalah kritik saya untuk reaksi masyarakat terhadap perbedaan. Jujur saja deh, kalau melihat sesuatu yang aneh atau tidak wajar, reaksi orang pertama kali pasti adalah curiga. Orang gak suka dengan yang aneh-aneh dan melenceng dari aslinya. Sebut saja misalnya Michael Jackson, Lady Gaga, atau di bidang sains, seperti teori Copernicus, Galileo. Bahkan seorang dari Yunani (maaf saya lupa nama beliau), barangkali dia adalah seorang yang pertama kali sadar bahwa matahari adalah batu yang bercahaya. Dan karena itu dia dibenci dan dianggap pagan. Dan ada kejadian yang membuat saya begitu miris dan mengagungkan Sigmund Freud, adalah ketika orang-orang dengan personality disorder dianggap kerasukan setan dan dikucilkan dari masyarakatnya (bebas). Inilah potret masyarakat yang coba saya kritik melalui Bebas. Mereka memang bebas, tapi seringkali menerapkan kebebasan untuk dirinya sendiri sehingga akhirnya, mereka tidak membebaskan orang lain.

Contoh lain yang merepresentasikan Bebas adalah rasisme, fasisme, etnosentrisme, semua ini yang hendak saya kritik melalui Bebas. Manusia menerima perbedaan itu bullshit. Pada umumnya, manusia benci perbedaan, mereka mencari yang sama kemudian berkelompok. Karena mereka ingin menjadikan dunia tempat yang nyata bagi mereka, maka mereka berusaha menobatkan manusia lain yang berbeda menjadi sama dengan mereka. 

Dalam cerita, ada komentar yang sangat tepat mengenai Bebas, "I saw first, it's mine". 
Kemudian setelah benihnya tumbuh menjadi yang tidak ia harapkan, awalnya ia marah, namun perlahan ia siap menerimanya, ia kembali lagi. Namun ternyata benih itu benih plin-plan sehingga ia malah memiliki dua identitas dan menjadi abnormal. Bebas terlihat tidak terima karena pohon ini tumbuh tidak seperti yang ia inginkan, dan sesungguhnya dia sadar bahwa itu terjadi karena kesalahannya sendiri, namun alam sadarnya tidak mau mengakuinya. Ini juga merepresentasikan seseorang dalam menghadapi aib. Seringkali ia menyalahkan pihak lain karena ada sesuatu yang membuatnya malu, padahal sesungguhnya hal itu terjadi karena dirinya sendiri. Point kedua : manusia selalu ingin hal yang diluar dirinya yang berubah demi dia. 

Maka dari itu, saya setuju dengan mereka yang mengatakan keanehan kenapa Bebas tidak berubah karakternya dari awal cerita hingga dewasa?
Karena ini sisi yang ingin saya angkat dari manusia, alih-alih mencoba untuk membuka diri, mereka seringkali menunjuk pihak lain sebagai penyebab ketidak bahagiaannya. Menyalahkan faktor lain, menyalahkan lingkungannya. Pada akhirnya, Bebas tidak menjadi apa-apa, karena "Pecundang sangat kaya akan alasan, sementara Juara terlalu sibuk untuk membuat alasan."

Beringin Mawar & Kakek
Kuharap, Kakek sudah jelas mensimbolkan sosok bijaksana dan baik, seperti misalnya Tuhan, atau juga Pendeta. Kakek saya coba gambarkan penuh pengharapan dan kesabaran, walau saya sadar sepenuhnya saat menuliskan si Kakek menampar Bebas hingga tuli sebelah (yah, sabar juga ada batasnya, kan?). Namun sesungguhnya peranana Kakek disini adalah sebagai simbol pengharapan dan kepantang menyerahan. Ia tahu sebaiknya ia tidak menyerah membajak sawah, karena ia berharap bahwa kelak dunia ini akan berubah. Benih unggulan itu telah ditunggunya sejak lama namun sayang sekali Bebas lebih dahulu menemukannya. Tapi karena dia cinta kebebasan, maka dia membiarkan Bebas melakukan apa yang ia mau. 

Apakah ini sudah sedikit banyak menjawab pertanyaan klasik teman-teman atheis; "Kalau Tuhan itu ada, kenapa ada kejahatan?"

Beringin Mawar menggambarkan ketangguhan manusia secara individu, berlawanan dengan Bebas yang menggambarkan sifat manusia secara sosial. Tidak merujuk pada individu tertentu, karena setiap dari kita sesungguhnya seunik Beringin Mawar, dan tentunya bisa setangguh Beringin Mawar. Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita semakin kuat. 

Bebas yang menanam benih di tanah bersampah dan buruk ini melambangkan bahwa seorang individu (Beringin Mawar) tidak bisa memilih dimana ia akan dilahirkan, ia harus siap dengan segala tantangan hidup yang dikondisikan terhadapnya. Maka bila seseorang pantang menyerah, ia pun bisa tumbuh di tempat tertandus sekalipun. Akar benih yang tumbuh dalam sehingga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bertunas merepresentasikan bahwa setiap orang selalu butuh waktu untuk tumbuh. Tidak peduli berapa lama yang ia butuhkan, yang manusia butuhkan hanyalah waktu. Maka dari itu, bersabarlah dalam tumbuh. Teruslah kembangkan akarmu untuk mencari "makanan" sehingga kau bisa bertunas.

Ada benarnya untuk seseorang yang mengatakan bahwa Bebas dan Kakek seperti ayah ibu. Tapi tidak hanya berlaku bagi seorang yang diharapkan lahir sebagai perempuan namun ternyata ia laki-laki. Ini juga berlaku dengan preferensi, orientasi dan cita-cita seseorang manusia yang kadang kala ditentang oleh keluarganya sendiri (Bebas). Ada seorang yang ingin menjadi Insinyur, namun keluarganya memaksanya sebagai dokter karena lebih mudah mendapatkan uang. Ada orang yang ingin menjadi penulis, namun keluarganya tidak setuju karena penulis itu hidupnya menyedihkan. 

Cita-cita adalah sesuatu yang menunjukkan jati dirimu. Setujulah pada orang yang mengatakan bahwa "jadikan hobimu sebagai pekerjaanmu, kau akan bermain sepanjang waktu.". Bisa dibilang, kau adalah apa yang kau lakukan.

Mengapa Bebas dibebaskan?
Terakhir, menanggapi pertanyaan yang sering kali muncul sehubungan dengan Bebas yang dibiarkan begitu saja, saya bermaksud untuk menekankan bahwa dalam hidup ini yang terpenting bukanlah karma, tapi apa yang kau lakukan bagi lingkunganmu. Biarkan dunia menentangmu, kau tidak perlu menunggu nasib buruk apa yang akan diterimanya. Bahkan saya rasa itu jahat karena setara dengan dendam. Tidak usah pedulikan mereka yang menyakitimu, biar mereka berkata apa, karena pada akhirnya, saat semua telah berakhir, urusan hanya ada antara kau dan Tuhan.

Akhir kata
Demikianlah respon saya terhadap respon-respon teman-teman tentang cerpen Beringin Mawar. Terima kasih karena telah membacanya dan menikmatinya. Sekalipun pada dasarnya saya mungkin menciptakan cerpen itu dengan konsep yang mungkin rumit, namun saya tetap membebaskan orang untuk berpendapat apa tentang cerpen ini. Mau dibilang ini cerpen anak-anak, terima kasih. Mau dibilang ini terlalu berat untuk anak-anak, terima kasih. Karena setiap respon dan interpretasi orang terhadap cerpen ini turut memperkaya makna cerpen Beringin Mawar.

Pada intinya, cerpen ini sesungguhnya memang ditulis sebagai alegori dan kritik serta motivasi. Jadi harap maklum andai ditemukan banyak kejanggalan di dalamnya.

Respon to responses : Beringin Mawar

Saja putuskan untuk menuliskan tanggapan dari respon orang-orang terhadap cerita Beringin Mawar di sini.

Cukup puas rasanya mengetahui beragam interpretasi orang mengenai cerpen saya ini. Ada yang sadar kalau ini alegori, ada yang terkesan, ada yang biasa-biasa aja, yang paling kocak adalah timbulnya gerakan Bebas Disamber Geledek. ROFL. Tapi perlu ditekankan bahwa tidak ada komentar yang salah, karena setiap orang benar atas cara pikir dan pengalamannya masing-masing. 

Saya ga mau mengganggu komentar yang diberikan dengan cara meralat atau mengkonfirmasi beberapa orang yang mengintepretasikan alegori itu, baik salah ataupun tepat di lapak Kasfan. Karena menyenangkan juga melihat beragam kesan orang terhadap cerita itu. Mau terima atau nggak, saya suka sekali membaca respon-respon orang terhadapnya, terutama karena saya jadi tahu sendiri cara berpikir seseorang dan cara seseorang memandang sesuatu. Apa subjektivitas para penulis itu. Menarik, bukan?

Dalam kasus inilah, "Kebenaran itu relatif" berlaku.

Pesan Sesungguhnya 
Cerita ini sesungguhnya adalah cerita tentang sabdha. Saya hendak menunjukkan betapa ampuhnya kata-kata itu yang seringkali disebut dengan "sugesti". Benih unggulan itu aslinya adalah benih mawar, yang kemudian Bebas mengatakan bahwa ia ingin beringin, maka dia jadi beringin. Tapi setelah tumbuh, Bebas mensabdhakan dia untuk menjadi mawar yang cantik. Maka benih ini terlihat bingung, "sebenernya saya ini ditakdirkan menjadi beringin atau mawar sih?" 

Setelah dia dibuang, dia dirawat oleh Kakek dan dibebaskan mau menjadi apa. Akhirnya ia tumbuh sebagai dua identitas, satu identitas aslinya dan yang kedua, identitas yang diinginkan bebas untuknya dahulu. Terakhir, Bebas berusaha membunuh Beringin Mawar, namun seperti kata Nietzsche; "Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu semakin kuat". Beringin Mawar terus bertambah kuat hingga akhirnya ia mati karena sabdha dari Bebas terhadapnya.

Terakhir, harapan Kakek terhadap Beringin Mawar bahwa benih ini mampu menghidupkan kembali tanah gersang, menjadi kenyataan karena ia mensabdhakannya seperti itu. Beringin Mawar membuahkan sebuah buah yang akhirnya mampu menurunkan hujan dan menghidupkan dunia seperti harapan Kakek. Semua adalah sabdha dan sugesti. Salah satu kekuatan terbesar di alam raya ini .... menurut saya.

Siapakah Bebas?
Bebas tidak lain adalah sebutan saya bagi manusia. 
Makanya ada yang bingung, kenapa namanya bebas, padahal kolot. Ya, karena dia representasi dari manusia, dan ini butuh penjelasan lebih biar gak dibilang kalau kesimpulan ini katanya; "bolong logika" (maksudnya : logical fallacy). Tapi hampir di setiap cerita-cerita yang kutulis, aku selalu menuliskan bahwa "manusia berasal dari pancaran cinta yang menitis ke dunia karena kebebasan.", manusia bagian dari cinta yang menitis ke dunia karena adanya kebebasan. Ini agak-agak menggunakan pengaruh dari filosofi Neo-Platonisme, jadi bila anda masih kesulitan memahaminya atau belum mengerti, coba dibaca saja Neo-Platonisme.

Bebas adalah representasi dari manusia, mereka memang adalah kebebasan, namun kebebasan yang mereka terapkan, sangat jarang dilakukan demi orang lain. Manusia selalu mengembalikan kebebasan menurut sudut pandangnya sendiri. Karena mereka bebas, maka mereka bebas berbuat apapun, jarang ada orang yang mencintai kebebasan lantas berpikiran terbuka. Tapi, ya, mereka bebas. Bukti dari kebebasan manusia adalah; dunia ini terbangun karena kritik.

Saya tidak bermaksud menciptakan karakter Bebas menjadi begitu menyebalkan atau dia ada untuk menjadi karakter yang disebelin. Justru sebenarnya Bebas adalah kritik saya untuk reaksi masyarakat terhadap perbedaan. Jujur saja deh, kalau melihat sesuatu yang aneh atau tidak wajar, reaksi orang pertama kali pasti adalah curiga. Orang gak suka dengan yang aneh-aneh dan melenceng dari aslinya. Sebut saja misalnya Michael Jackson, Lady Gaga, atau di bidang sains, seperti teori Copernicus, Galileo. Bahkan seorang dari Yunani (maaf saya lupa nama beliau), barangkali dia adalah seorang yang pertama kali sadar bahwa matahari adalah batu yang bercahaya. Dan karena itu dia dibenci dan dianggap pagan. Dan ada kejadian yang membuat saya begitu miris dan mengagungkan Sigmund Freud, adalah ketika orang-orang dengan personality disorder dianggap kerasukan setan dan dikucilkan dari masyarakatnya (bebas). Inilah potret masyarakat yang coba saya kritik melalui Bebas. Mereka memang bebas, tapi seringkali menerapkan kebebasan untuk dirinya sendiri sehingga akhirnya, mereka tidak membebaskan orang lain.

Contoh lain yang merepresentasikan Bebas adalah rasisme, fasisme, etnosentrisme, semua ini yang hendak saya kritik melalui Bebas. Manusia menerima perbedaan itu bullshit. Pada umumnya, manusia benci perbedaan, mereka mencari yang sama kemudian berkelompok. Karena mereka ingin menjadikan dunia tempat yang nyata bagi mereka, maka mereka berusaha menobatkan manusia lain yang berbeda menjadi sama dengan mereka. 

Dalam cerita, ada komentar yang sangat tepat mengenai Bebas, "I saw first, it's mine". 
Kemudian setelah benihnya tumbuh menjadi yang tidak ia harapkan, awalnya ia marah, namun perlahan ia siap menerimanya, ia kembali lagi. Namun ternyata benih itu benih plin-plan sehingga ia malah memiliki dua identitas dan menjadi abnormal. Bebas terlihat tidak terima karena pohon ini tumbuh tidak seperti yang ia inginkan, dan sesungguhnya dia sadar bahwa itu terjadi karena kesalahannya sendiri, namun alam sadarnya tidak mau mengakuinya. Ini juga merepresentasikan seseorang dalam menghadapi aib. Seringkali ia menyalahkan pihak lain karena ada sesuatu yang membuatnya malu, padahal sesungguhnya hal itu terjadi karena dirinya sendiri. Point kedua : manusia selalu ingin hal yang diluar dirinya yang berubah demi dia. 

Maka dari itu, saya setuju dengan mereka yang mengatakan keanehan kenapa Bebas tidak berubah karakternya dari awal cerita hingga dewasa?
Karena ini sisi yang ingin saya angkat dari manusia, alih-alih mencoba untuk membuka diri, mereka seringkali menunjuk pihak lain sebagai penyebab ketidak bahagiaannya. Menyalahkan faktor lain, menyalahkan lingkungannya. Pada akhirnya, Bebas tidak menjadi apa-apa, karena "Pecundang sangat kaya akan alasan, sementara Juara terlalu sibuk untuk membuat alasan."

Beringin Mawar & Kakek
Kuharap, Kakek sudah jelas mensimbolkan sosok bijaksana dan baik, seperti misalnya Tuhan, atau juga Pendeta. Kakek saya coba gambarkan penuh pengharapan dan kesabaran, walau saya sadar sepenuhnya saat menuliskan si Kakek menampar Bebas hingga tuli sebelah (yah, sabar juga ada batasnya, kan?). Namun sesungguhnya peranana Kakek disini adalah sebagai simbol pengharapan dan kepantang menyerahan. Ia tahu sebaiknya ia tidak menyerah membajak sawah, karena ia berharap bahwa kelak dunia ini akan berubah. Benih unggulan itu telah ditunggunya sejak lama namun sayang sekali Bebas lebih dahulu menemukannya. Tapi karena dia cinta kebebasan, maka dia membiarkan Bebas melakukan apa yang ia mau. 

Apakah ini sudah sedikit banyak menjawab pertanyaan klasik teman-teman atheis; "Kalau Tuhan itu ada, kenapa ada kejahatan?"

Beringin Mawar menggambarkan ketangguhan manusia secara individu, berlawanan dengan Bebas yang menggambarkan sifat manusia secara sosial. Tidak merujuk pada individu tertentu, karena setiap dari kita sesungguhnya seunik Beringin Mawar, dan tentunya bisa setangguh Beringin Mawar. Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita semakin kuat. 

Bebas yang menanam benih di tanah bersampah dan buruk ini melambangkan bahwa seorang individu (Beringin Mawar) tidak bisa memilih dimana ia akan dilahirkan, ia harus siap dengan segala tantangan hidup yang dikondisikan terhadapnya. Maka bila seseorang pantang menyerah, ia pun bisa tumbuh di tempat tertandus sekalipun. Akar benih yang tumbuh dalam sehingga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bertunas merepresentasikan bahwa setiap orang selalu butuh waktu untuk tumbuh. Tidak peduli berapa lama yang ia butuhkan, yang manusia butuhkan hanyalah waktu. Maka dari itu, bersabarlah dalam tumbuh. Teruslah kembangkan akarmu untuk mencari "makanan" sehingga kau bisa bertunas.

Ada benarnya untuk seseorang yang mengatakan bahwa Bebas dan Kakek seperti ayah ibu. Tapi tidak hanya berlaku bagi seorang yang diharapkan lahir sebagai perempuan namun ternyata ia laki-laki. Ini juga berlaku dengan preferensi, orientasi dan cita-cita seseorang manusia yang kadang kala ditentang oleh keluarganya sendiri (Bebas). Ada seorang yang ingin menjadi Insinyur, namun keluarganya memaksanya sebagai dokter karena lebih mudah mendapatkan uang. Ada orang yang ingin menjadi penulis, namun keluarganya tidak setuju karena penulis itu hidupnya menyedihkan. 

Cita-cita adalah sesuatu yang menunjukkan jati dirimu. Setujulah pada orang yang mengatakan bahwa "jadikan hobimu sebagai pekerjaanmu, kau akan bermain sepanjang waktu.". Bisa dibilang, kau adalah apa yang kau lakukan.

Mengapa Bebas dibebaskan?
Terakhir, menanggapi pertanyaan yang sering kali muncul sehubungan dengan Bebas yang dibiarkan begitu saja, saya bermaksud untuk menekankan bahwa dalam hidup ini yang terpenting bukanlah karma, tapi apa yang kau lakukan bagi lingkunganmu. Biarkan dunia menentangmu, kau tidak perlu menunggu nasib buruk apa yang akan diterimanya. Bahkan saya rasa itu jahat karena setara dengan dendam. Tidak usah pedulikan mereka yang menyakitimu, biar mereka berkata apa, karena pada akhirnya, saat semua telah berakhir, urusan hanya ada antara kau dan Tuhan.

Akhir kata
Demikianlah respon saya terhadap respon-respon teman-teman tentang cerpen Beringin Mawar. Terima kasih karena telah membacanya dan menikmatinya. Sekalipun pada dasarnya saya mungkin menciptakan cerpen itu dengan konsep yang mungkin rumit, namun saya tetap membebaskan orang untuk berpendapat apa tentang cerpen ini. Mau dibilang ini cerpen anak-anak, terima kasih. Mau dibilang ini terlalu berat untuk anak-anak, terima kasih. Karena setiap respon dan interpretasi orang terhadap cerpen ini turut memperkaya makna cerpen Beringin Mawar.

Pada intinya, cerpen ini sesungguhnya memang ditulis sebagai alegori dan kritik serta motivasi. Jadi harap maklum andai ditemukan banyak kejanggalan di dalamnya.

Selasa, 26 Juni 2012

Bila Anda suka Logika ...



Saya sarankan untuk membaca buku Alex Lanur atau Gilarso & Poespoprodjo. Mereka banyak menulis tentang logika dasar. Silakan dibaca biar ngritiknya makin mantep ....


Bila Anda suka Logika ...



Saya sarankan untuk membaca buku Alex Lanur atau Gilarso & Poespoprodjo. Mereka banyak menulis tentang logika dasar. Silakan dibaca biar ngritiknya makin mantep ....


Naskah : Takdir Bintang Merah


Pada awalnya saya ingin menulis sesuatu yang mudah diterima sekalian mencoba untuk mempopulerkan genre fantasi. Maka dari itu saya ingin menulis sebuah Romance Fantasy.

Plot awalnya sebenarnya adalah seorang pengendara Dragon yang tersesat dan terdampar di sebuah tempat terpencil dan jatuh cinta pada seorang gadis yang baru saja putus dengan tunangannya. Alam fantasi di dalam plot cerita ini adalah si pengendara Dragon ini adalah seorang pengguna tenaga dalam warna ilusi.

tapi karena terlalu ringan dan saya jadi bosan sendiri, maka saya putuskan untuk menambahkan ini itu dan akhirnya malah jadi cerita yang relatif berat dan ujung2nya malah ngomongin strategi. (Yahhh ...) ya sudah akhirnya malah jadi bikin cerita fantasi baru.





Dunianya bernuansa Hindu dan sansekerta. Untuk wilayah Mandilig, agak spesial karena menggunakan nama-nama dari Sunda dan Jawa tengah. beberapa nama dan term mengolah dari bahasa Filiphina (karena menurut saya Filipina dan Indonesia cukup dekat rumpunnya). Sekalipun ada beberapa nama karakter sudah saya ganti, itu semua bertujuan demi semacam netralisir, agar tidak menyinggung pihak tertentu.

Keunggulan naskah ini dari kacamata saya sebagai penulisnya adalah, ia memiliki unsur filosofis, kritik terhadap fasisme, dan jaringan romance yang saya katakan cukup rumit. Penting untuk saya tekankan bahwa fasisme yang saya kritik dalam naskah ini tidak menunjuk pada golongan tertentu, namun lebih kepada sebuah kritk terhadap sisi gelap manusiawi. 

Sepanjang saya mengamati dunia ini, ternyata fasisme tidak hanya melulu tentang agama atau politik, tapi juga idealisme, ideologi. Apabila seorang manusia percaya akan sesuatu, ia akan memegangnya teguh dan berusaha untuk mempertahankan keabadiannya. Karena saat manusia mencintai, ia ingin hal yang dicintainya itu menjadi abadi. Inilah yang saya rasa menjadi dasar sebuah perilaku fasis. Maka dari itulah, tidak jarang fasisme juga dapat ditemui di kalangan fanboy-fangirl, dan bila anda suka pairing ship antara tokoh-tokoh rekaan di tv show, anda bisa menemui beberapa orang yang suka pairing yang sekalipun mungkin tidak dipair oleh penciptanya seperti Sanji-Nami, Zoro-Nami, atau Zuko-Katara. Mereka yang fasisnya sudah benar-benar kental, bisa saja benar-benar percaya bahwa Sanji-Nami memang benar-benar dipasangkan oleh Odachi dan Zuko-Katara memang sebenarnya dipasangkan oleh Bryan & Mike. Inilah fasisme yang hendak saya kritik : fasisme sebagai sisi gelap manusia, merasa yakin bahwa ideologi yang ia anut paling benar dan orang lain harus menurutinya. Yang melawan berarti musuh dan harus mati (ini behavior yang sering saya temukan di fandom Kataang dan Maiko dari Avatar). Tidak hanya melulu soal terorisme berkedok agama.

Saat saya menuliskan blog ini, saya sudah sampai pada chapter 18, semakin mendekati bagian akhir dari cerita. Cerita ini awal dirancang pada saat liburan semester 2 dimulai dan saya tidak menyangka akan menghabiskan liburan semester ini dengan menulis naskah tentang kritik terhadap fasisme. Oh ya, selain dari kritik terhadap fasisme itu, saya juga memiliki pesan lain mengenai takdir dan cinta. Semua saya sertakan di dalam naskah ini, dan semoga dalam penyampaiannya tidak terkesan menggurui. Apapun ideologi saya, sudah saya usahakan untuk menulisnya secara terbuka sehingga setiap orang bebas akan menyimpulkan apa.

Kutipan-kutipan : 

“...Kejam sekali Brahma kalau begitu. Ia telah menggariskan seseorang lahir untuk mati sia-sia. Untuk apa dia hidup? Bukankah katanya Brahma itu Maha Pengasih,..."

" … inilah kebenaran subjektif. Ia memperkaya kebenaran objektif. Tidak dapat disalahkan karena ia seperti cermin yang memantulkan salah satu sisi dari satu objek."

“Hei, Baladitya, … apabila ayah kandungmu menyuruhmu membunuh orang yang tidak berdosa hanya karena ia suka melihat orang tidak berdosa itu mati, apakah dengan melaksanakannya maka kau menjadi anak teladan dan dosamu tidak menjadi dosa? ..."

"Satu hal yang pasti; kita semua berasal dari latar belakang yang beragam. Kita, Lanun, Dwarapala, … dan Ksatriya. Kita pun berlatih selama ini dengan disiplin khas masing-masing dan membuktikan bahwa keberagaman ada untuk saling melengkapi."

"Engkau telah kehilangan cinta dalam hidupmu. Tapi ketahuilah. Cinta adalah sebongkah energi positif yang sangat kuat. Ia selalu ada di sekitarmu dan tinggal bersamamu. Ketika satu bentuk cinta telah menghilang lepas dari hidupmu bagai asap yang tak tergenggam lagi … ia akan terlahir kembali dalam bentuk lain …”



“Aku suka Kiran … aku ingin terus bersamanya, bukankah itu menguntungkanku bila mengantarkan kalian ke Ebla?”

Naskah : Takdir Bintang Merah


Pada awalnya saya ingin menulis sesuatu yang mudah diterima sekalian mencoba untuk mempopulerkan genre fantasi. Maka dari itu saya ingin menulis sebuah Romance Fantasy.

Plot awalnya sebenarnya adalah seorang pengendara Dragon yang tersesat dan terdampar di sebuah tempat terpencil dan jatuh cinta pada seorang gadis yang baru saja putus dengan tunangannya. Alam fantasi di dalam plot cerita ini adalah si pengendara Dragon ini adalah seorang pengguna tenaga dalam warna ilusi.

tapi karena terlalu ringan dan saya jadi bosan sendiri, maka saya putuskan untuk menambahkan ini itu dan akhirnya malah jadi cerita yang relatif berat dan ujung2nya malah ngomongin strategi. (Yahhh ...) ya sudah akhirnya malah jadi bikin cerita fantasi baru.





Dunianya bernuansa Hindu dan sansekerta. Untuk wilayah Mandilig, agak spesial karena menggunakan nama-nama dari Sunda dan Jawa tengah. beberapa nama dan term mengolah dari bahasa Filiphina (karena menurut saya Filipina dan Indonesia cukup dekat rumpunnya). Sekalipun ada beberapa nama karakter sudah saya ganti, itu semua bertujuan demi semacam netralisir, agar tidak menyinggung pihak tertentu.

Keunggulan naskah ini dari kacamata saya sebagai penulisnya adalah, ia memiliki unsur filosofis, kritik terhadap fasisme, dan jaringan romance yang saya katakan cukup rumit. Penting untuk saya tekankan bahwa fasisme yang saya kritik dalam naskah ini tidak menunjuk pada golongan tertentu, namun lebih kepada sebuah kritk terhadap sisi gelap manusiawi. 

Sepanjang saya mengamati dunia ini, ternyata fasisme tidak hanya melulu tentang agama atau politik, tapi juga idealisme, ideologi. Apabila seorang manusia percaya akan sesuatu, ia akan memegangnya teguh dan berusaha untuk mempertahankan keabadiannya. Karena saat manusia mencintai, ia ingin hal yang dicintainya itu menjadi abadi. Inilah yang saya rasa menjadi dasar sebuah perilaku fasis. Maka dari itulah, tidak jarang fasisme juga dapat ditemui di kalangan fanboy-fangirl, dan bila anda suka pairing ship antara tokoh-tokoh rekaan di tv show, anda bisa menemui beberapa orang yang suka pairing yang sekalipun mungkin tidak dipair oleh penciptanya seperti Sanji-Nami, Zoro-Nami, atau Zuko-Katara. Mereka yang fasisnya sudah benar-benar kental, bisa saja benar-benar percaya bahwa Sanji-Nami memang benar-benar dipasangkan oleh Odachi dan Zuko-Katara memang sebenarnya dipasangkan oleh Bryan & Mike. Inilah fasisme yang hendak saya kritik : fasisme sebagai sisi gelap manusia, merasa yakin bahwa ideologi yang ia anut paling benar dan orang lain harus menurutinya. Yang melawan berarti musuh dan harus mati (ini behavior yang sering saya temukan di fandom Kataang dan Maiko dari Avatar). Tidak hanya melulu soal terorisme berkedok agama.

Saat saya menuliskan blog ini, saya sudah sampai pada chapter 18, semakin mendekati bagian akhir dari cerita. Cerita ini awal dirancang pada saat liburan semester 2 dimulai dan saya tidak menyangka akan menghabiskan liburan semester ini dengan menulis naskah tentang kritik terhadap fasisme. Oh ya, selain dari kritik terhadap fasisme itu, saya juga memiliki pesan lain mengenai takdir dan cinta. Semua saya sertakan di dalam naskah ini, dan semoga dalam penyampaiannya tidak terkesan menggurui. Apapun ideologi saya, sudah saya usahakan untuk menulisnya secara terbuka sehingga setiap orang bebas akan menyimpulkan apa.

Kutipan-kutipan : 

“...Kejam sekali Brahma kalau begitu. Ia telah menggariskan seseorang lahir untuk mati sia-sia. Untuk apa dia hidup? Bukankah katanya Brahma itu Maha Pengasih,..."

" … inilah kebenaran subjektif. Ia memperkaya kebenaran objektif. Tidak dapat disalahkan karena ia seperti cermin yang memantulkan salah satu sisi dari satu objek."

“Hei, Baladitya, … apabila ayah kandungmu menyuruhmu membunuh orang yang tidak berdosa hanya karena ia suka melihat orang tidak berdosa itu mati, apakah dengan melaksanakannya maka kau menjadi anak teladan dan dosamu tidak menjadi dosa? ..."

"Satu hal yang pasti; kita semua berasal dari latar belakang yang beragam. Kita, Lanun, Dwarapala, … dan Ksatriya. Kita pun berlatih selama ini dengan disiplin khas masing-masing dan membuktikan bahwa keberagaman ada untuk saling melengkapi."

"Engkau telah kehilangan cinta dalam hidupmu. Tapi ketahuilah. Cinta adalah sebongkah energi positif yang sangat kuat. Ia selalu ada di sekitarmu dan tinggal bersamamu. Ketika satu bentuk cinta telah menghilang lepas dari hidupmu bagai asap yang tak tergenggam lagi … ia akan terlahir kembali dalam bentuk lain …”



“Aku suka Kiran … aku ingin terus bersamanya, bukankah itu menguntungkanku bila mengantarkan kalian ke Ebla?”

Kamis, 21 Juni 2012

Secuil Opini mengenai Post-Modernisme


Mudskipper. Ikan amphibi yang banyak terdapat di wilayah tropis. Barangkali bila diminta untuk memberikan satu ikon bagi era post-modernisme, saya akan mengajukan ikan ini sebagai maskot. Tidak hanya dapat keluar dari perairan, ia dapat memanjat pohon. Jadi kelak kalau era post-modernisme ini sudah lewat dan orang-orang di masa depan itu hendak mengklasifikasikan, merangkum dan menyimbolkan era ini, Mudskipper, voteku satu untuk kamu.

"Bila kau menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya untuk memanjat pohon, ia akan menghabiskan seumur hidupnya untuk percaya bahwa ia bodoh."
--Albert Einstein

Dalam Post-Modernisme, tidak ada kebenaran yang pasti. Kebebasan berpikir, berpendapat, beropini, berawal darikritik terhadap pemikiran modernisme yang relatif searah. Eksistensialisme menjadi landasan bagi Post-Modernisme. Ia adalah aliran yang mengutamakan keindividualismean seseorang, dan peranannya sebagai seseorang di dunia ini.

“Sooner or later I will die. But I won’t die because of a gun. Not because of my disease. Not because I ate a mushroom! I won’t die because of a sword! I won’t die against anything that you can do to me! I will die when people forget about me.”
—Dr Hiluluk, One Piece (Eiichiro Oda)

Memijak fondasi Heidegger, bagi Kiergaard, manusia bisa jadi individu yang autentik bila memiliki gairah, keterlibatan dan komitmen pribadi dalam kehidupan (afektivitas). Bagi Nietzche, manusia bisa menjadi unggul saat ia bisa meralisasikan dirinya secara jujur dan berani (subjektivitas).
Bagi Satre, manusia harus membangun keberadaannya secara terus menerus (historisitas/transendensi).

Pemikiran Post-Modernisme merupakan kritik epistemologis atas weltanschauugen yang menyangkut liberalisme, marxisme, scientisme, dan positivisme. Secara garis besar begitu berlawanan dengan kehidupan dan pandangan modernisme hingga memengaruhi kultur, alam pikiran, kebudayaan dan lain-lainnya.

Contoh tersimpel mengenai bukti kita sedang hidup dalam era Post-Modernisme adalah saat kita menonton film atau membaca cerpen dimana pada endingnya diceritakan secara menggantung atau tidak jelas. Kesimpulan dan pesan-pesan moral atau hikmah di dalamnya, diserahkan pada para penonton untuk menilai sendiri apa yang sedang terjadi, apa yang akan disampaikan oleh cerita tersebut. 

Tidak ada kebenaran mutlak, semuanya relatif. Subjektif. Kebenaran selalu berkembang.
Filsafat yang dahulu menjadi topik pembicaraan penting dan berat, kini dapat dibicarakan di kafe sebagai gosip atau lelucon. Lifestyle berubah menjadi kuantitas lebih penting daripada kualitas. Universal jadi partikular. Slice of life menjadi begitu menarik. Idealis menjadi prularis. Deterministic form menjadi semiotic form. 

"Modernisme, kau sudah berlalu."

Apakah kelak orang akan menyebut "Modernisme" sebagai era sains dan "Post-Modernisme" sebagai era entertainment?

Secuil Opini mengenai Post-Modernisme


Mudskipper. Ikan amphibi yang banyak terdapat di wilayah tropis. Barangkali bila diminta untuk memberikan satu ikon bagi era post-modernisme, saya akan mengajukan ikan ini sebagai maskot. Tidak hanya dapat keluar dari perairan, ia dapat memanjat pohon. Jadi kelak kalau era post-modernisme ini sudah lewat dan orang-orang di masa depan itu hendak mengklasifikasikan, merangkum dan menyimbolkan era ini, Mudskipper, voteku satu untuk kamu.

"Bila kau menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya untuk memanjat pohon, ia akan menghabiskan seumur hidupnya untuk percaya bahwa ia bodoh."
--Albert Einstein

Dalam Post-Modernisme, tidak ada kebenaran yang pasti. Kebebasan berpikir, berpendapat, beropini, berawal darikritik terhadap pemikiran modernisme yang relatif searah. Eksistensialisme menjadi landasan bagi Post-Modernisme. Ia adalah aliran yang mengutamakan keindividualismean seseorang, dan peranannya sebagai seseorang di dunia ini.

“Sooner or later I will die. But I won’t die because of a gun. Not because of my disease. Not because I ate a mushroom! I won’t die because of a sword! I won’t die against anything that you can do to me! I will die when people forget about me.”
—Dr Hiluluk, One Piece (Eiichiro Oda)

Memijak fondasi Heidegger, bagi Kiergaard, manusia bisa jadi individu yang autentik bila memiliki gairah, keterlibatan dan komitmen pribadi dalam kehidupan (afektivitas). Bagi Nietzche, manusia bisa menjadi unggul saat ia bisa meralisasikan dirinya secara jujur dan berani (subjektivitas).
Bagi Satre, manusia harus membangun keberadaannya secara terus menerus (historisitas/transendensi).

Pemikiran Post-Modernisme merupakan kritik epistemologis atas weltanschauugen yang menyangkut liberalisme, marxisme, scientisme, dan positivisme. Secara garis besar begitu berlawanan dengan kehidupan dan pandangan modernisme hingga memengaruhi kultur, alam pikiran, kebudayaan dan lain-lainnya.

Contoh tersimpel mengenai bukti kita sedang hidup dalam era Post-Modernisme adalah saat kita menonton film atau membaca cerpen dimana pada endingnya diceritakan secara menggantung atau tidak jelas. Kesimpulan dan pesan-pesan moral atau hikmah di dalamnya, diserahkan pada para penonton untuk menilai sendiri apa yang sedang terjadi, apa yang akan disampaikan oleh cerita tersebut. 

Tidak ada kebenaran mutlak, semuanya relatif. Subjektif. Kebenaran selalu berkembang.
Filsafat yang dahulu menjadi topik pembicaraan penting dan berat, kini dapat dibicarakan di kafe sebagai gosip atau lelucon. Lifestyle berubah menjadi kuantitas lebih penting daripada kualitas. Universal jadi partikular. Slice of life menjadi begitu menarik. Idealis menjadi prularis. Deterministic form menjadi semiotic form. 

"Modernisme, kau sudah berlalu."

Apakah kelak orang akan menyebut "Modernisme" sebagai era sains dan "Post-Modernisme" sebagai era entertainment?

Logika dan Fiksi

Sebagai Penulis
Saya seorang penulis fiksi dan fantasy. Membicarakan fantasy, sudah pasti sangat dekat dengan imajinasi. Kebanyakan dari kita ... maaf, maksud saya, .... bila kita disuguhkan kata "imajinasi", detik pertama yang meletup dalam kepala kita sebagai lawannya adalah "realita". Maka dari itu kadang secara sepintas, tampaknya apapun yang imajinatif, tidak ada logikanya. Padahal kalau dipikir lagi lebih jauh, sebenarnya dalam imajinasi ada logika, dalam logika ada daya imajinasi.

Manusia itu adalah makhluk imajinatif dengan kemampuan berfantasi. Demikian kata seorang atheis untuk menjelaskan kenapa ada sesosok makhluk Maha Kuasa yang umumnya disebut Tuhan. Tuhan tidak ada, tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, dicium, diraba, tapi mereka percaya bahwa Tuhan itu ada. Jauh sebelum kita dilahirkan, bapa-bapa gereja dan para filusuf muslim telah merasionalisasikan keberadaan Allah.   Terutama pada zaman medieval dimana perang salib menjadi salah satu ikon zaman tersebut. Namun tampaknya mereka sepakat bahwa Tuhan terlalu luas untuk dapat dirasionalisasikan oleh manusia, karena untuk berusaha memahami pikiran Allah, manusia tidak berbeda dengan seorang bocah yang hendak memindahkan lautan ke dalam sebuah lubang kecil di tepi pantai. Namun hasil tulisan para perasional Tuhan itu bukan berarti omong kosong. Mereka sanggup menjelaskan konsep trinitas, turut membangun fondasi bagi ilmu filsafat manusia, yang pada akhirnya mencabang hingga psikologi.

Kisah paragraf di atas hendak menyampaikan tentang perkawinan antara imajinasi dan rasio, daya nalar manusia. Logika adalah dasar dari segala kebenaran. Logika sebaiknya bersifat objektif, sementara rasio umumnya bersifat subjektif. Berdasarkan pengamatan saya sejauh ini, dari segala hal yang diciptakan manusia (karya tulis, karya seni, kejahatan, kebaikan, filsafat, puisi, agama), yang paling abadi biasanya adalah sesuatu yang empiris. Ini menjelaskan kenapa sains begitu kuat posisinya di dunia, saat kita menjelaskan sesuatu kepada orang asing, ia akan lebih percaya bila kita menjelaskan secara sains daripada secara pemahaman subjektif. Hal ini disebabkan karena hal yang bersifat empiris adalah hal yang paling bisa dibuktikan, dan paling mungkin dipercaya keakuratan prediksinya.

Setelah kita memahami betapa kuatnya sesuatu yang empiris, yang tentu saja berhubungan erat dengan logika, maka kita bisa menyimpulkan bahwa karya tulis yang paling baik, sebaiknya yang dapat diterima masyarakat umum. Imajinasi boleh kemana-mana. Tapi untuk menciptakan dasar yang kuat, seorang world-builder harus memperhitungkan faktor empiris untuk menetapkan hukum-hukum yang berlaku di dunianya sendiri.

Dulu ketika saya masih berada dalam LCDP, kami sedang berniat untuk membuat sebuah dunia yang beda dari yang lain, yang unik. Mereka berpikir "diluar kotak" dengan menempatkan matahari di dalam planet. Akal saya sulit menerimanya karena saya mengingat cara orang mengeringkan tanah liat, dan cara orang-orang zaman dahulu membuat cob atau adobe. Ini berarti bila matahari berada di dalam planet dan tidak ada lubang untuk sirkulasi pemuaian udara, akibatnya akan terjadi sebuah ledakan. Tidak ada kehidupan. 

Argumentasi mereka adalah : dunia ini sangat luas, maka pemuaian bukan masalah.
Inipun masih cukup lemah karena faktor jarak antara planet dan matahari juga turut menentukan adanya kehidupan atau tidak di dalam planet tersebut. Menjelaskan kenapa kehidupan baru ada di Bumi (Mars nyaris ada/tidak ada). Jarak sekian pun panas matahari masih bisa mengeringkan rumah cob dan bangunan adobe.

Sesungguhnya hal ini tidak berarti menemui kebuntuan dengan lantas mustahil untuk menciptakan dunia di dalam planet dengan matahari di dalam planet. Pada saat hal ini menjadi mustahil untuk dibuktikan secara sains, inilah saat yang tepat untuk memainkan imajinasi dengan menciptakan unsur fantasi di dalamnya. Kreatifkan pikiran dan lepaskan dari argumentasi sains, dengan menambahkan unsur baru yang tidak ada di dunia nyata ke dalam dunia rekaan yang "nyaris tidak mungkin ada" itu. Misalnya, ada sebuah unsur gas yang membuat tanah selalu basah atau sebuah tanaman yang mengendalikan pemuaian itu, atau pikirkan saja apapun yang kira-kira bisa memanipulasi pemuaian udara dalam ruangan tertutup itu menjadi sesuatu yang lan. Atau bisa juga pemuaian itu oleh "sesuatu" dikristalisasikan menjadi kristal energi."

Pada intinya, perkawinan antara empirisme dan imajinasi adalah yang sesungguhnya melahirkan fantasy yang baik. Jujur saja, sering saya menemukan orang yang membaca sebuah novel fantasy dengan plot bagus, tapi ada sebuah kecacatan dalam dunianya yang membuat seseorang tidak berniat lagi untuk melanjutkan membaca dengan nyaman. Biasanya kalau sudah begini, komentar yang akan diberikan adalah, "cerita ini penuh drama dan intrik, tapi sangat miskin riset". Dengan logika yang tepat, cerita kita jadi lebih masuk akal bagi orang lain, dengan logika yang invalid, cerita kita jadi tidak nyaman untuk dibaca. Dengan demikian, saya simpulkan bahwa logika valid dengan imajinasi itu sangat penting dalam world-building dunia fantasy.

Sebagai Pembaca
Jujur saja deh, jauh lebih enak membaca review seorang pembaca yang memiliki logika valid daripada yang hanya mengungkapkan afektivitasnya belaka. Fungsi logika dalam membaca sebuah cerita, seorang pembaca jadi lebih mudah untuk menangkap pesan implisit yang terkandung dalam sebuah kalimat. Logika yang baik juga turut membantu dalam pemahaman cerita dan menentukan seperti apa wujud cerita itu. Semakin objektif sebuah review, biasanya semakin valid logika si pembaca.

Seorang pembaca yang membaca cerita dengan logika (cara berpikir), biasanya mampu memahami dengan baik apa yang terjadi di dalam plot itu, bukannya seseorang yang hanya dapat menemukan kesalahan belaka dan bangga karena merasa jeli. 

contohnya, 
Di gunung Selamet ada kolam Misterius, siapapun manusia yang masuk ke dalamnya, akan segera mati.
.....................
(beberapa bab kemudian)
.................. 
"Paijo, Paijo, cincinku jatuh ..."
"Jatuh kemana, Surti?"
"Ke dalam kolam Misterius...kalau kamu cinta sama aku ambilin dong..."
"Oke, Surti, apapun untukmu."
Paijo menyelam ke dalam kolam Misterius dan muncul lagi bersama cincin itu. Wajahnya terlihat segar bugar, ia menghampiri Surti dan menyerahkan cincinnya. "Ini, Surti."
Mereka hidup bahagia selama-lamanya.

ini adalah komentar dengan logika invalid :
"Ini penulisnya ga konsisten nih. Harusnya Paijo langsung mati!"

tapi, ini adalah komentar dengan logika valid :
"Berarti Paijo bukan manusia."

Dengan demikian, pembaca yang menggunakan logikanya dengan valid akan mampu memahami pesan implisit dari si penulis bahwa sesungguhnya Paijo bukan manusia. Menggunakan logika dengan valid akan membuat sebuah karya menjadi lebih dihargai karena dipahami.

Logika dan Fiksi

Sebagai Penulis
Saya seorang penulis fiksi dan fantasy. Membicarakan fantasy, sudah pasti sangat dekat dengan imajinasi. Kebanyakan dari kita ... maaf, maksud saya, .... bila kita disuguhkan kata "imajinasi", detik pertama yang meletup dalam kepala kita sebagai lawannya adalah "realita". Maka dari itu kadang secara sepintas, tampaknya apapun yang imajinatif, tidak ada logikanya. Padahal kalau dipikir lagi lebih jauh, sebenarnya dalam imajinasi ada logika, dalam logika ada daya imajinasi.

Manusia itu adalah makhluk imajinatif dengan kemampuan berfantasi. Demikian kata seorang atheis untuk menjelaskan kenapa ada sesosok makhluk Maha Kuasa yang umumnya disebut Tuhan. Tuhan tidak ada, tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, dicium, diraba, tapi mereka percaya bahwa Tuhan itu ada. Jauh sebelum kita dilahirkan, bapa-bapa gereja dan para filusuf muslim telah merasionalisasikan keberadaan Allah.   Terutama pada zaman medieval dimana perang salib menjadi salah satu ikon zaman tersebut. Namun tampaknya mereka sepakat bahwa Tuhan terlalu luas untuk dapat dirasionalisasikan oleh manusia, karena untuk berusaha memahami pikiran Allah, manusia tidak berbeda dengan seorang bocah yang hendak memindahkan lautan ke dalam sebuah lubang kecil di tepi pantai. Namun hasil tulisan para perasional Tuhan itu bukan berarti omong kosong. Mereka sanggup menjelaskan konsep trinitas, turut membangun fondasi bagi ilmu filsafat manusia, yang pada akhirnya mencabang hingga psikologi.

Kisah paragraf di atas hendak menyampaikan tentang perkawinan antara imajinasi dan rasio, daya nalar manusia. Logika adalah dasar dari segala kebenaran. Logika sebaiknya bersifat objektif, sementara rasio umumnya bersifat subjektif. Berdasarkan pengamatan saya sejauh ini, dari segala hal yang diciptakan manusia (karya tulis, karya seni, kejahatan, kebaikan, filsafat, puisi, agama), yang paling abadi biasanya adalah sesuatu yang empiris. Ini menjelaskan kenapa sains begitu kuat posisinya di dunia, saat kita menjelaskan sesuatu kepada orang asing, ia akan lebih percaya bila kita menjelaskan secara sains daripada secara pemahaman subjektif. Hal ini disebabkan karena hal yang bersifat empiris adalah hal yang paling bisa dibuktikan, dan paling mungkin dipercaya keakuratan prediksinya.

Setelah kita memahami betapa kuatnya sesuatu yang empiris, yang tentu saja berhubungan erat dengan logika, maka kita bisa menyimpulkan bahwa karya tulis yang paling baik, sebaiknya yang dapat diterima masyarakat umum. Imajinasi boleh kemana-mana. Tapi untuk menciptakan dasar yang kuat, seorang world-builder harus memperhitungkan faktor empiris untuk menetapkan hukum-hukum yang berlaku di dunianya sendiri.

Dulu ketika saya masih berada dalam LCDP, kami sedang berniat untuk membuat sebuah dunia yang beda dari yang lain, yang unik. Mereka berpikir "diluar kotak" dengan menempatkan matahari di dalam planet. Akal saya sulit menerimanya karena saya mengingat cara orang mengeringkan tanah liat, dan cara orang-orang zaman dahulu membuat cob atau adobe. Ini berarti bila matahari berada di dalam planet dan tidak ada lubang untuk sirkulasi pemuaian udara, akibatnya akan terjadi sebuah ledakan. Tidak ada kehidupan. 

Argumentasi mereka adalah : dunia ini sangat luas, maka pemuaian bukan masalah.
Inipun masih cukup lemah karena faktor jarak antara planet dan matahari juga turut menentukan adanya kehidupan atau tidak di dalam planet tersebut. Menjelaskan kenapa kehidupan baru ada di Bumi (Mars nyaris ada/tidak ada). Jarak sekian pun panas matahari masih bisa mengeringkan rumah cob dan bangunan adobe.

Sesungguhnya hal ini tidak berarti menemui kebuntuan dengan lantas mustahil untuk menciptakan dunia di dalam planet dengan matahari di dalam planet. Pada saat hal ini menjadi mustahil untuk dibuktikan secara sains, inilah saat yang tepat untuk memainkan imajinasi dengan menciptakan unsur fantasi di dalamnya. Kreatifkan pikiran dan lepaskan dari argumentasi sains, dengan menambahkan unsur baru yang tidak ada di dunia nyata ke dalam dunia rekaan yang "nyaris tidak mungkin ada" itu. Misalnya, ada sebuah unsur gas yang membuat tanah selalu basah atau sebuah tanaman yang mengendalikan pemuaian itu, atau pikirkan saja apapun yang kira-kira bisa memanipulasi pemuaian udara dalam ruangan tertutup itu menjadi sesuatu yang lan. Atau bisa juga pemuaian itu oleh "sesuatu" dikristalisasikan menjadi kristal energi."

Pada intinya, perkawinan antara empirisme dan imajinasi adalah yang sesungguhnya melahirkan fantasy yang baik. Jujur saja, sering saya menemukan orang yang membaca sebuah novel fantasy dengan plot bagus, tapi ada sebuah kecacatan dalam dunianya yang membuat seseorang tidak berniat lagi untuk melanjutkan membaca dengan nyaman. Biasanya kalau sudah begini, komentar yang akan diberikan adalah, "cerita ini penuh drama dan intrik, tapi sangat miskin riset". Dengan logika yang tepat, cerita kita jadi lebih masuk akal bagi orang lain, dengan logika yang invalid, cerita kita jadi tidak nyaman untuk dibaca. Dengan demikian, saya simpulkan bahwa logika valid dengan imajinasi itu sangat penting dalam world-building dunia fantasy.

Sebagai Pembaca
Jujur saja deh, jauh lebih enak membaca review seorang pembaca yang memiliki logika valid daripada yang hanya mengungkapkan afektivitasnya belaka. Fungsi logika dalam membaca sebuah cerita, seorang pembaca jadi lebih mudah untuk menangkap pesan implisit yang terkandung dalam sebuah kalimat. Logika yang baik juga turut membantu dalam pemahaman cerita dan menentukan seperti apa wujud cerita itu. Semakin objektif sebuah review, biasanya semakin valid logika si pembaca.

Seorang pembaca yang membaca cerita dengan logika (cara berpikir), biasanya mampu memahami dengan baik apa yang terjadi di dalam plot itu, bukannya seseorang yang hanya dapat menemukan kesalahan belaka dan bangga karena merasa jeli. 

contohnya, 
Di gunung Selamet ada kolam Misterius, siapapun manusia yang masuk ke dalamnya, akan segera mati.
.....................
(beberapa bab kemudian)
.................. 
"Paijo, Paijo, cincinku jatuh ..."
"Jatuh kemana, Surti?"
"Ke dalam kolam Misterius...kalau kamu cinta sama aku ambilin dong..."
"Oke, Surti, apapun untukmu."
Paijo menyelam ke dalam kolam Misterius dan muncul lagi bersama cincin itu. Wajahnya terlihat segar bugar, ia menghampiri Surti dan menyerahkan cincinnya. "Ini, Surti."
Mereka hidup bahagia selama-lamanya.

ini adalah komentar dengan logika invalid :
"Ini penulisnya ga konsisten nih. Harusnya Paijo langsung mati!"

tapi, ini adalah komentar dengan logika valid :
"Berarti Paijo bukan manusia."

Dengan demikian, pembaca yang menggunakan logikanya dengan valid akan mampu memahami pesan implisit dari si penulis bahwa sesungguhnya Paijo bukan manusia. Menggunakan logika dengan valid akan membuat sebuah karya menjadi lebih dihargai karena dipahami.