Tampilkan postingan dengan label layla and majnun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label layla and majnun. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Review Buku : Pengantin Surga

Pengantin SurgaPengantin Surga by نظامی گنجوی
My rating: 4 of 5 stars

Nilai plus dari buku ini
tidak lain adalah diksi, prosa dan narasi. gayanya klasik dan harus dibaca dengan sabar, kalimat per kalimat. ini bukan sastra modern yang tampaknya di skiming saja bisa. ini bukan hanya soal plot, cerita dan pesan moral, tapi cobalah resapi kalimat per kalimat, kata per kata. anda akan paham kenapa karya ini tetap abadi selama berabad-abad.

jangan bangga karena dapat menyelesaikan novel ini dalam waktu satu jam. bukan masalah berapa cepat kau menyelesaikan novel ini. bukan demi plot novel ini ditulis, tapi demi keindahan cinta yang direpresentasikan melalui prosa. saya yakin banyak pembaca yang dapat melakukan itu, menyelesaikan novel ini dalam waktu 1 jam. tapi banggalah bila anda benar-benar menikmati keindahan tulisan yang dituliskan oleh Nizami Ganjavi.

Sastra timur tengah memiliki keunggulan dalam penggunaan diksinya, dan kurasa, kalau memang Shakespeare terinspirasi dari tulisan ini, itu terinspirasi dari gaya kepenulisannya. Seni dari tulisan adalah diksi, dan kurasa sebagai penikmat sastra klasik gadungan, ini benang merah antara Shakespeare dan N. Ganjavi.

Sekarang kepada kritik subjektif saya terhadap novel ini ...

Novel ini sebenarnya bukan untuk menampilkan keagungan cinta. bukan. salah bila menganggapnya begitu. salah besar, malah.
novel ini kurasa adalah sebagai sindiran bagi orang-orang yang dimabuk cinta dan tidak bisa kembali pada akal sehatnya.

Karena sejauh yang saya baca, orang-orang bijaksana dan pemurah hati dalam buku ini bukanlah Majnun. Tapi Sang Ayah, Nawfan, Laila, dan semua pihak yang dirugikan oleh Majnun.

Kalau ingin mencari pesan moral dalam cerita ini, baca saja nasihat2 ayah Majnun. dia sungguh-sungguh tokoh terbaik dalam cerita ini. dan bila ada penyuguhan cinta sejati dalam cerita ini, itu adalah cinta dari sang ayah terhadap Majnun, atau cinta persahabatan Nawfal terhadap Majnun.

Nawfal memberikan pasukannya berperang demi Majnun yang akhirnya dengan gobloknya malah memihak yang diperangi. Oke, mungkin terdengar romantis; "aku lebih membelamu daripada sahabatku sendiri karena aku mencintaimu."
tapi bagi saya itu sama sekali tidak romantis, itu mengerikan.

Majnun adalah pecinta terburuk sepanjang masa, dan novel ini menyuguhkan kita sebuah kritik yang seringkali terjadi pada orang-orang lemah yang tidak sanggup menahan diri dari jeratan cinta yang sesungguhnya bukanlah cinta sama sekali, tapi harga diri dan keegoisan. dan keegoisan ini semakin kelihatan dari surat balasan Majnun terhadap Layla. Dan saya heran banget kenapa Layla tetep suka sama orang yang memperlakukannya seperti itu? saya gak ngeliat sama sekali Majnun berusaha memahami kondisi Layla dan meneguhkan dia, tapi sekali lagi, Majnun minta dipahami, minta dingertiin. Sungguh kalau bukan karena prosa dan diksinya yang luar biasa, gw ga bakal lanjut baca buku ini.

Gue mikir aja sih ... coba si Majnun ga aneh2 dari awal dan membuktikan kehebatannya, kelak bokapnya Layla juga nyerah sendiri. atau pakai akal untuk menakhlukkan bokapnya Layla. Gue selalu percaya bahwa seseorang akan berakhir bersama orang lain yang sama baiknya dengan dirinya. Jadi kalau Majnun gak dapet2 Layla juga, itu berarti ada yang harus dia rubah dalam dirinya menjadi lebih baik lagi. Bukannya menyerah pada harga diri seperti itu, jadi aneh aja. kesannya semua orang harus ngelayanin Majnun, orang lain yang harus nyerah ke dia. dan mereka harus bersatu just for the sake of "true love" yang sesungguhnya adalah "ngotot love"

Bagian ending dari buku ini sangat mengharukan. My deepest sympathy for Layla. Kematian Majnun cukup mengharukan. Sulit menentukan apakah ini happy ending atau sad ending, namun judul Pengantin Surga benar-benar sangat pas untuk mereka berdua. Rasa kagum saya terhadap mereka berdua, mereka tetap saling mencinta, namun tidak berzina. Walau begitu saya tetap menyayangkan Majnun yang sedemikian ngotot mempertahankan kekeras kepalaannya.

Saya tidak sepenuhnya setuju bahwa cinta Majnun terhadap Layla itu merupakan alegori manusia terhadap Allah. Karena kalau begitu, Ibnu Salam, ayah Layla itu ibarat apa? Lebih membingungkan lagi peranan Nawfal bila cinta Manjun terhadap Layla adalah cinta manusia terhadap Allah. Siapa Nawfal kalau begitu? Disamping itu, cinta Majnun terhadap Layla adalah cinta nafsu walau keduanya tetap bertahan menjaga kesucian hingga akhir hayat. Kalau seperti itu berarti cinta manusia terhadap Allah itu adalah cinta duniawi dong? Demi Allah, saya tidak setuju menyamakan cinta Majnun terhadap Layla sebagai cinta umat terhadap Allah yang tampaknya diadakan untuk merasionalisasikan "Ngotot love" nya Majnun yang pada zaman post-modern ini tidak sepopuler zaman dulu lagi.

View all my reviews

Review Buku : Pengantin Surga

Pengantin SurgaPengantin Surga by نظامی گنجوی
My rating: 4 of 5 stars

Nilai plus dari buku ini
tidak lain adalah diksi, prosa dan narasi. gayanya klasik dan harus dibaca dengan sabar, kalimat per kalimat. ini bukan sastra modern yang tampaknya di skiming saja bisa. ini bukan hanya soal plot, cerita dan pesan moral, tapi cobalah resapi kalimat per kalimat, kata per kata. anda akan paham kenapa karya ini tetap abadi selama berabad-abad.

jangan bangga karena dapat menyelesaikan novel ini dalam waktu satu jam. bukan masalah berapa cepat kau menyelesaikan novel ini. bukan demi plot novel ini ditulis, tapi demi keindahan cinta yang direpresentasikan melalui prosa. saya yakin banyak pembaca yang dapat melakukan itu, menyelesaikan novel ini dalam waktu 1 jam. tapi banggalah bila anda benar-benar menikmati keindahan tulisan yang dituliskan oleh Nizami Ganjavi.

Sastra timur tengah memiliki keunggulan dalam penggunaan diksinya, dan kurasa, kalau memang Shakespeare terinspirasi dari tulisan ini, itu terinspirasi dari gaya kepenulisannya. Seni dari tulisan adalah diksi, dan kurasa sebagai penikmat sastra klasik gadungan, ini benang merah antara Shakespeare dan N. Ganjavi.

Sekarang kepada kritik subjektif saya terhadap novel ini ...

Novel ini sebenarnya bukan untuk menampilkan keagungan cinta. bukan. salah bila menganggapnya begitu. salah besar, malah.
novel ini kurasa adalah sebagai sindiran bagi orang-orang yang dimabuk cinta dan tidak bisa kembali pada akal sehatnya.

Karena sejauh yang saya baca, orang-orang bijaksana dan pemurah hati dalam buku ini bukanlah Majnun. Tapi Sang Ayah, Nawfan, Laila, dan semua pihak yang dirugikan oleh Majnun.

Kalau ingin mencari pesan moral dalam cerita ini, baca saja nasihat2 ayah Majnun. dia sungguh-sungguh tokoh terbaik dalam cerita ini. dan bila ada penyuguhan cinta sejati dalam cerita ini, itu adalah cinta dari sang ayah terhadap Majnun, atau cinta persahabatan Nawfal terhadap Majnun.

Nawfal memberikan pasukannya berperang demi Majnun yang akhirnya dengan gobloknya malah memihak yang diperangi. Oke, mungkin terdengar romantis; "aku lebih membelamu daripada sahabatku sendiri karena aku mencintaimu."
tapi bagi saya itu sama sekali tidak romantis, itu mengerikan.

Majnun adalah pecinta terburuk sepanjang masa, dan novel ini menyuguhkan kita sebuah kritik yang seringkali terjadi pada orang-orang lemah yang tidak sanggup menahan diri dari jeratan cinta yang sesungguhnya bukanlah cinta sama sekali, tapi harga diri dan keegoisan. dan keegoisan ini semakin kelihatan dari surat balasan Majnun terhadap Layla. Dan saya heran banget kenapa Layla tetep suka sama orang yang memperlakukannya seperti itu? saya gak ngeliat sama sekali Majnun berusaha memahami kondisi Layla dan meneguhkan dia, tapi sekali lagi, Majnun minta dipahami, minta dingertiin. Sungguh kalau bukan karena prosa dan diksinya yang luar biasa, gw ga bakal lanjut baca buku ini.

Gue mikir aja sih ... coba si Majnun ga aneh2 dari awal dan membuktikan kehebatannya, kelak bokapnya Layla juga nyerah sendiri. atau pakai akal untuk menakhlukkan bokapnya Layla. Gue selalu percaya bahwa seseorang akan berakhir bersama orang lain yang sama baiknya dengan dirinya. Jadi kalau Majnun gak dapet2 Layla juga, itu berarti ada yang harus dia rubah dalam dirinya menjadi lebih baik lagi. Bukannya menyerah pada harga diri seperti itu, jadi aneh aja. kesannya semua orang harus ngelayanin Majnun, orang lain yang harus nyerah ke dia. dan mereka harus bersatu just for the sake of "true love" yang sesungguhnya adalah "ngotot love"

Bagian ending dari buku ini sangat mengharukan. My deepest sympathy for Layla. Kematian Majnun cukup mengharukan. Sulit menentukan apakah ini happy ending atau sad ending, namun judul Pengantin Surga benar-benar sangat pas untuk mereka berdua. Rasa kagum saya terhadap mereka berdua, mereka tetap saling mencinta, namun tidak berzina. Walau begitu saya tetap menyayangkan Majnun yang sedemikian ngotot mempertahankan kekeras kepalaannya.

Saya tidak sepenuhnya setuju bahwa cinta Majnun terhadap Layla itu merupakan alegori manusia terhadap Allah. Karena kalau begitu, Ibnu Salam, ayah Layla itu ibarat apa? Lebih membingungkan lagi peranan Nawfal bila cinta Manjun terhadap Layla adalah cinta manusia terhadap Allah. Siapa Nawfal kalau begitu? Disamping itu, cinta Majnun terhadap Layla adalah cinta nafsu walau keduanya tetap bertahan menjaga kesucian hingga akhir hayat. Kalau seperti itu berarti cinta manusia terhadap Allah itu adalah cinta duniawi dong? Demi Allah, saya tidak setuju menyamakan cinta Majnun terhadap Layla sebagai cinta umat terhadap Allah yang tampaknya diadakan untuk merasionalisasikan "Ngotot love" nya Majnun yang pada zaman post-modern ini tidak sepopuler zaman dulu lagi.

View all my reviews

Jumat, 22 Juni 2012

The Story of Layla and Majnun



Kutulis puisi di atas pasir, 
Melukis jiwamu dengan untaian kata,
Menjadi gila karena tuakmu,
Bersama malam ... melintasi bintang.
...cinta kita bagai puisi di atas pasir... 


Izinkan saya untuk menguraikan puisi yang saya buat setelah membaca wikipedia dari kisah Layla dan Majnun itu.

"Kutulis puisi di atas pasir
Melukis jiwamu dengan untaian kata"

Setelah Layla menikah dengan orang lain, Majnun, seperti orang patah hati lainnya, pergi mengembara ke alam liar, dan tertulis di wikipedia bahwa ia kadang akan menulis puisi tentang Layla di atas pasir. Sedangkan pada bait ke dua, mengapa saya menggunakan kata "jiwa" daripada yang lain? Karena jiwa adalah apa yang khas dari setiap individu. Jiwa yang membuat seseorang, seseorang. Jadi saya selalu percaya bahwa ketika orang mencintai orang lain diluar dari penampilan fisiknya, karena orang itu menjadi dirinya sendiri, maka orang itu telah mencintai jiwanya.

When Majnun heard of her marriage, he fled the tribe camp and began wandering the surrounding desert. His family eventually gave up hope for his return and left food for him in the wilderness. He could sometimes be seen reciting poetry to himself or writing in the sand with a stick.
"Menjadi gila karena tuakmu,"


Majnun berarti "orang gila". Ia dikatakan gila oleh orang di sekitarnya karena tergila-gila oleh Layla. Sedangkan arti "tuak" semacam minuman yang dapat membuat mabuk. Saya tidak perlu mengatakan bahwa itu alegori untuk asmara, kan? ...ups.

"Bersama malam ... melintasi bintang."

Ini semacam linguistik trick. Konon nama Layla berarti "malam". Sedangkan "melintasi bintang" dari istilah kepenulisan "star-crossed", sebuah istilah yang biasa digunakan untuk menyebutkan pasangan lintas bintang, pasangan yang menentang bintang. Zaman dahulu orang mengira bahwa takdir manusia sudah tertulis di bintang-bintang. Zaman sekarang pendapat ini dicoreng oleh astrologi ngasal yang dilakukan kolumnis majalah. Jadi arti dari "star-crossed" gampangnya adalah "kasih tak sampai"

The enduring popularity of the legend has influenced Middle Eastern literature, especially Sufiwriters, in whose literature the name Layla refers to their concept of the Beloved. The original story is featured in Bahá'u'lláh's mystical writings, the Seven Valleys. In Arabic, Layla means "night," and is thought to mean "one who works by night." This is an apparent allusion to the fact that the romance of the star-crossed lovers was hidden and kept secret. In the Arabic language, the word Majnunmeans "mad man." In addition to this creative use of language, the tale has also made at least one linguistic contribution, inspiring aTurkish colloquialism: to "feel like Mecnun" is to feel completely possessed, as might be expected of a person who is literally madly in love.

The Story of Layla and Majnun



Kutulis puisi di atas pasir, 
Melukis jiwamu dengan untaian kata,
Menjadi gila karena tuakmu,
Bersama malam ... melintasi bintang.
...cinta kita bagai puisi di atas pasir... 


Izinkan saya untuk menguraikan puisi yang saya buat setelah membaca wikipedia dari kisah Layla dan Majnun itu.

"Kutulis puisi di atas pasir
Melukis jiwamu dengan untaian kata"

Setelah Layla menikah dengan orang lain, Majnun, seperti orang patah hati lainnya, pergi mengembara ke alam liar, dan tertulis di wikipedia bahwa ia kadang akan menulis puisi tentang Layla di atas pasir. Sedangkan pada bait ke dua, mengapa saya menggunakan kata "jiwa" daripada yang lain? Karena jiwa adalah apa yang khas dari setiap individu. Jiwa yang membuat seseorang, seseorang. Jadi saya selalu percaya bahwa ketika orang mencintai orang lain diluar dari penampilan fisiknya, karena orang itu menjadi dirinya sendiri, maka orang itu telah mencintai jiwanya.

When Majnun heard of her marriage, he fled the tribe camp and began wandering the surrounding desert. His family eventually gave up hope for his return and left food for him in the wilderness. He could sometimes be seen reciting poetry to himself or writing in the sand with a stick.
"Menjadi gila karena tuakmu,"


Majnun berarti "orang gila". Ia dikatakan gila oleh orang di sekitarnya karena tergila-gila oleh Layla. Sedangkan arti "tuak" semacam minuman yang dapat membuat mabuk. Saya tidak perlu mengatakan bahwa itu alegori untuk asmara, kan? ...ups.

"Bersama malam ... melintasi bintang."

Ini semacam linguistik trick. Konon nama Layla berarti "malam". Sedangkan "melintasi bintang" dari istilah kepenulisan "star-crossed", sebuah istilah yang biasa digunakan untuk menyebutkan pasangan lintas bintang, pasangan yang menentang bintang. Zaman dahulu orang mengira bahwa takdir manusia sudah tertulis di bintang-bintang. Zaman sekarang pendapat ini dicoreng oleh astrologi ngasal yang dilakukan kolumnis majalah. Jadi arti dari "star-crossed" gampangnya adalah "kasih tak sampai"

The enduring popularity of the legend has influenced Middle Eastern literature, especially Sufiwriters, in whose literature the name Layla refers to their concept of the Beloved. The original story is featured in Bahá'u'lláh's mystical writings, the Seven Valleys. In Arabic, Layla means "night," and is thought to mean "one who works by night." This is an apparent allusion to the fact that the romance of the star-crossed lovers was hidden and kept secret. In the Arabic language, the word Majnunmeans "mad man." In addition to this creative use of language, the tale has also made at least one linguistic contribution, inspiring aTurkish colloquialism: to "feel like Mecnun" is to feel completely possessed, as might be expected of a person who is literally madly in love.