Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

The Story of Layla and Majnun



Kutulis puisi di atas pasir, 
Melukis jiwamu dengan untaian kata,
Menjadi gila karena tuakmu,
Bersama malam ... melintasi bintang.
...cinta kita bagai puisi di atas pasir... 


Izinkan saya untuk menguraikan puisi yang saya buat setelah membaca wikipedia dari kisah Layla dan Majnun itu.

"Kutulis puisi di atas pasir
Melukis jiwamu dengan untaian kata"

Setelah Layla menikah dengan orang lain, Majnun, seperti orang patah hati lainnya, pergi mengembara ke alam liar, dan tertulis di wikipedia bahwa ia kadang akan menulis puisi tentang Layla di atas pasir. Sedangkan pada bait ke dua, mengapa saya menggunakan kata "jiwa" daripada yang lain? Karena jiwa adalah apa yang khas dari setiap individu. Jiwa yang membuat seseorang, seseorang. Jadi saya selalu percaya bahwa ketika orang mencintai orang lain diluar dari penampilan fisiknya, karena orang itu menjadi dirinya sendiri, maka orang itu telah mencintai jiwanya.

When Majnun heard of her marriage, he fled the tribe camp and began wandering the surrounding desert. His family eventually gave up hope for his return and left food for him in the wilderness. He could sometimes be seen reciting poetry to himself or writing in the sand with a stick.
"Menjadi gila karena tuakmu,"


Majnun berarti "orang gila". Ia dikatakan gila oleh orang di sekitarnya karena tergila-gila oleh Layla. Sedangkan arti "tuak" semacam minuman yang dapat membuat mabuk. Saya tidak perlu mengatakan bahwa itu alegori untuk asmara, kan? ...ups.

"Bersama malam ... melintasi bintang."

Ini semacam linguistik trick. Konon nama Layla berarti "malam". Sedangkan "melintasi bintang" dari istilah kepenulisan "star-crossed", sebuah istilah yang biasa digunakan untuk menyebutkan pasangan lintas bintang, pasangan yang menentang bintang. Zaman dahulu orang mengira bahwa takdir manusia sudah tertulis di bintang-bintang. Zaman sekarang pendapat ini dicoreng oleh astrologi ngasal yang dilakukan kolumnis majalah. Jadi arti dari "star-crossed" gampangnya adalah "kasih tak sampai"

The enduring popularity of the legend has influenced Middle Eastern literature, especially Sufiwriters, in whose literature the name Layla refers to their concept of the Beloved. The original story is featured in Bahá'u'lláh's mystical writings, the Seven Valleys. In Arabic, Layla means "night," and is thought to mean "one who works by night." This is an apparent allusion to the fact that the romance of the star-crossed lovers was hidden and kept secret. In the Arabic language, the word Majnunmeans "mad man." In addition to this creative use of language, the tale has also made at least one linguistic contribution, inspiring aTurkish colloquialism: to "feel like Mecnun" is to feel completely possessed, as might be expected of a person who is literally madly in love.

The Story of Layla and Majnun



Kutulis puisi di atas pasir, 
Melukis jiwamu dengan untaian kata,
Menjadi gila karena tuakmu,
Bersama malam ... melintasi bintang.
...cinta kita bagai puisi di atas pasir... 


Izinkan saya untuk menguraikan puisi yang saya buat setelah membaca wikipedia dari kisah Layla dan Majnun itu.

"Kutulis puisi di atas pasir
Melukis jiwamu dengan untaian kata"

Setelah Layla menikah dengan orang lain, Majnun, seperti orang patah hati lainnya, pergi mengembara ke alam liar, dan tertulis di wikipedia bahwa ia kadang akan menulis puisi tentang Layla di atas pasir. Sedangkan pada bait ke dua, mengapa saya menggunakan kata "jiwa" daripada yang lain? Karena jiwa adalah apa yang khas dari setiap individu. Jiwa yang membuat seseorang, seseorang. Jadi saya selalu percaya bahwa ketika orang mencintai orang lain diluar dari penampilan fisiknya, karena orang itu menjadi dirinya sendiri, maka orang itu telah mencintai jiwanya.

When Majnun heard of her marriage, he fled the tribe camp and began wandering the surrounding desert. His family eventually gave up hope for his return and left food for him in the wilderness. He could sometimes be seen reciting poetry to himself or writing in the sand with a stick.
"Menjadi gila karena tuakmu,"


Majnun berarti "orang gila". Ia dikatakan gila oleh orang di sekitarnya karena tergila-gila oleh Layla. Sedangkan arti "tuak" semacam minuman yang dapat membuat mabuk. Saya tidak perlu mengatakan bahwa itu alegori untuk asmara, kan? ...ups.

"Bersama malam ... melintasi bintang."

Ini semacam linguistik trick. Konon nama Layla berarti "malam". Sedangkan "melintasi bintang" dari istilah kepenulisan "star-crossed", sebuah istilah yang biasa digunakan untuk menyebutkan pasangan lintas bintang, pasangan yang menentang bintang. Zaman dahulu orang mengira bahwa takdir manusia sudah tertulis di bintang-bintang. Zaman sekarang pendapat ini dicoreng oleh astrologi ngasal yang dilakukan kolumnis majalah. Jadi arti dari "star-crossed" gampangnya adalah "kasih tak sampai"

The enduring popularity of the legend has influenced Middle Eastern literature, especially Sufiwriters, in whose literature the name Layla refers to their concept of the Beloved. The original story is featured in Bahá'u'lláh's mystical writings, the Seven Valleys. In Arabic, Layla means "night," and is thought to mean "one who works by night." This is an apparent allusion to the fact that the romance of the star-crossed lovers was hidden and kept secret. In the Arabic language, the word Majnunmeans "mad man." In addition to this creative use of language, the tale has also made at least one linguistic contribution, inspiring aTurkish colloquialism: to "feel like Mecnun" is to feel completely possessed, as might be expected of a person who is literally madly in love.

Jumat, 13 April 2012

Patah Hati


aku hanya aku...
aku ini aku...
membawa segenggam cinta untukmu...
membawa sepucuk harapan untukmu...


rasa ini tumbuh dari hati...
tak menyadari kapan ia datang kesini...
rasa ini datang sendiri...
yang awalnya memberi indah di hidup ini...


aku suka kamu...
aku sayang kamu...
yang pada akhirnya aku cinta kamu...
semua itu bukanku yang mau...


tuhan yang berkata...
hati ini terbuka...
memasukan kau dalam bentuk cinta...
menjadikan hati ini berwarna...


semua kusebut sebagai...
suatu proses menyukai...
lalu proses menyayangi...
kemudian proses mencintai...


tapi mengapa hatiku menjadi korban :(
selalu di terpa kesedihan...
menangung segala penderitaan...
mengalami ini dengan kesengsaraan...


ada apa dengan cinta pertama ini?
selalu saja, luka yang mewarnai...
menerima kenyataan, harus di lukai...
harus sadar bahwa sedang di sakiti...


tuhan...
apasalahku?
mengapa kau berikan ini padaku...
mengapa kau limpahkan ini untuku...


sadarkanlah diriku...
bahwa dia tak mencintaiku...
bahwa dia telah pergi...
berarti apa penantian ini...


seberapa besar aku dimatanya...
seberapa pantas aku dihadapanya...
mungkinkah kau anggapku hina...
mengapa diri ini selalu kau siksa...


pergilah cinta jika kau begini...
musnahlah cinta jika kau disini...
untuk apa kau hadir?
untuk apa kau mampir?




Pergilah kau jauh dari mataku. dari hadapaku... aku tak sanggup untuk membencimu. beri aku waktu untuk melupakanmu. maaf aku hanya bisa mengganggumu. aku tak bisa berbuat banyak. menunggu waktu perpisahan untuk bisa jauh darimu. mengubur kau dalam lubuk hatiku. aku tak bisa apa-apa lagi yang hanya ingin ku katakan padamu bahwa aku mengagumimu aku menyukaimu and i only can say : I LOVE YOU!.


Putri Yudi Saucha