Jumat, 21 Oktober 2011

Betoropun mutung kasarung

" Bilangke sama mas arjuno dan kk aku gag jadi nunut and sory nek selama ini aku ngrepoti Maaf " 
itulah sms yang terlontar pada betoro ayu malam ini, tat kala perasaan jengkel dan marah terluap dalam suatu tulisan begitulah bunyinya.

Apakah yang terjadi sebenarnya, pimikiran yang seperti apakah yang ada dalam benaknya atau naluri yang bagaimana yang iya gunakan, atau hanya sebuah paradigma kami yang berbeda mengenai semuanya.

Namun tak penat bagi kami Arjuno menghadapi cercaan itu, bagi kami adalah sebuah cercaan karena kata-kata itu tidak mengandung naluri dari seorang yang membutuhkan orang lain dalam berbagai hal.

Mungkin kalau kata-kata itu berada dalam inbook hp cinta ( Ada apa dengan Cinta 2007 ), dia akan langsung membuat puisi yang bunyinya

kulari kehutan kemudian Hilangku
kulari kepantai kemudian pacaranku
sepi, sepi dan sendiri karena yang satu tidak kelihatan
aku benci dengan banci
aku ingin bingar
aku mau di pasar beli trasi
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat dan makanlah cokelat
seperti berjelaga
Jika kusendiri
pecahkan saja gelasnya tapi jangan mangkoknya
biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh
ah…ada malaikat menyulam ( bukan malaikat roqib )
jaring laba – laba belang spiderman tu .
di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera
atau aku harus lari kehutan
belok kepantai 
ah tidak aku baru saja memancing.

Kini betoro ayu telah mutung kasarung, kami tidak bisa mencegahnya kami hanya takut kalau dia terjebak pada lubang hitam hitamnya kegelapan.

Namun biarlah kami tahu dia sudah besar, sudah bisa mengenali mana yang hitam dan mana yang putih atau hijau, mana yang baik untuknya dan mana yang jelek untuknya. atau mungkin seperti kisah anak kecil kalau kata simbahku dulu begini ( bocah angger durung keneng geni durung bakal mandek dolanan geni ) itulah bunyinya.

Kalau diartikan begini. ( Anak kalau belum terkena panasnya api maka dia belum berhenti bermain api )