Rabu, 05 Mei 2010

Budaya Malu: Indonesiaku bukan Indonesia Indonesiaan

Budaya Malu: Indonesiaku bukan Indonesia IndonesiaanBanyak sekali pelajaran yang sarat dengan hikmah, pelajaran, teguran juga sebagai bahan evaluasi khususnya bagi saya pribadi sebagai warga Negara Indonesia dan umumnya buat sahabat se-tanah air. Kenapa saya mengaitkan kearah Warga Negara karena ini menyangkut kepada BUDAYA kita, salah satu budaya Indonesia yang mejadi dasar dalam jiwa orang melayu juga kita dan menjadi salah satu ciri khas budaya kita adalah BUDAYA MALU dan bukan Budaya MALU-MALUIN.

Budaya malu-maluin memang sudah terlanjur terlihat jelas di mata kita, bahkan sudah dipertontonkan di mata dunia, huuhh kita sudah terlanjur malu kawan tapi, apakah kita hanya diam menjadi bahan tontonan mereka? dan menikmati sikap malu-maluin sebagai bahan ejekan dari negeri lain? dan juga bagaimana cara kita menyikapi Budaya Malu di Indonesia saat ini?

Menjawab pertanyaan diatas mungkin bisa dikatakan cukup bisa kita saksikan dan dapat kita dengar dengan segala kenyataan dan masalah yang muncul di negeri kita Indonesia sekarang ini. Sungguh naif bila kita terus mengelak bahwa budaya malu kita masih tetap kuat padahal dilapangan pernyataan kita seakan menjadi bumerang bagi kita sendiri bahwa budaya malu negeri ini sudah jelas nampak memudar. Tapi, yang jelas dengan bukti otentik dilapangan bahwa tanda-tandanya sekarang telah mengarahkan bahwa budaya malu negeri ini semakin mengikis dan jarang sekali terngiang di telinga kita kata Budaya MALU. kenapa?

Kita telah menyimak bersama di media massa yang ada di sekitar kita.Tampaknya hampir semua elemen masyarakat kehidupan Indonesia baik itu Masyarakat, Aparat Pemerintah, Media Massa, hampir kehilangan identitasnya sebagai seorang yang memiliki budaya malu. dimulai dengan Kasus Korupsi (Permasalahan yang sangat klasik dan sangat sulit diberantas), kasus makelar pajak dengan artis trend utama saat ini adalah Gayus Tambunan, sekarang Film Gigolo di Pulau Dewata, kasus Seks Bebas di kalangan pelajar di Indonesia dengan bukti video yang dapat diakses melalui Internet, dan masih banyak lagi kasus yang membuat kita jenuh, kenapa berdasarkan hasil survei yang dilakukan di salah satu media kabar di Indonesia, Pikiran kita di isi kurang lebih 70 % dengan kabar atau info yang negatif mungkin lebih dan sisanya kabar positif yang kita terima ke otak kita. (sungguh menyedihkan). Apakah kita tidak malu otak kita terus di isi dengan info-info Negatif yang akan berdampak terhadap psikologis kita?

Alangkah bijaknya kita sebagai masyarakat Indonesia untuk senantiasa terus menanyakan kembali kepada bangsa ini umumnya dan tidak terlepas untuk merefleksi diri kita sendiri. Masihkah ada "budaya malu" yang ada di celah ruang hati bangsa kita? Setidaknya kita patut bersyukur karena negeri ini masih ada orang-orang yang memiliki budaya malu dalam kehidupannya. Orang-orang ini masih tersebar di media massa baik dalam bidang politik, bisnis, maupun sosial. Orang yang masih menganggap bahwa ini Indonesiaku yang memiliki budaya "Malu" dan bukan sebagai warga negara yang Indonesia-indonesiaan. siapakah dia? Info ini saya dapat dari berbagai sumber, dan bukan bermaksud untuk menyinggung pihak tertentu, ini sebagai pembelajaran bagi kita akan pentingnya sikap menumbuhkan budaya malu, bukan budaya malu maluin.

Agus Condro, Mantan Kader PDIPAgus Condro, Mantan Kader PDIP mengakui terhadap kasus penyuapannya dalam kasus pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia sepertinya layak menjadi titik terang bukti bahwa Indonesia masih memiliki rakyat yang berbudaya malu. Juga sebuah pengakuan lainnya dari kader partai PKS Zulhamli Alhamdi yang tertangkap basah berada di panti pijat yang membuat beliau langsung memutuskan untuk mundur dari bursa pencalonan anggota legislatif tampaknya juga pantas menjadi kisah teladan bagi bangsa ini. Mereka adalah dua dari sedikit contoh kisah para politikus Indonesia yang masih memiliki budaya malu dan berjiwa kesatria karena mau mengakui kesalahannya.

kader partai PKS Zulhamli AlhamdiKawan, sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara. Baik oleh elemen individu, kelompok, terlebih oleh bangsa ini. Kita sadari betapa tidak berhentinya petaka, bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya diakibatkan oleh hilangnya rasa malu. Bukan begitu? dan sikap kita dalam menyikapi segala masalah yang muncul tidak henti-hentinya datag kenegeri kita, Negeri yang harus tetap kita perjuangkan walaupun keadaan yang nyaris membuat semangat Rasa Nasionalisme kita Luntur, tapi jangan sampai pudar kawan, khususnya bagi generasi pemuda. Saya yang terlahir di bumi pertiwi yang tercinta ini, memiliki amanat untuk terus memajukan prestasi yang telah dicapai oleh anak-anak bangsa Indonesia. Kawan janganlah malu ketika kita akan berbuat yang terbaik untuk bangsa kita ini, tapi malulah ketika kita membiarkan keadaan Indonesia seperti ini terus masuk ke AREA "Budaya Malu-Maluin". Saatnya:

"Individu merasa malu setidaknya terhadap hati nurani dirinya sendiri ketika melakukan tindakan yang menyalahi aturan, Masyarakat merasa malu ketika menghakimi sendiri terhadap pelaku yang tertangkap basah dalam tindak kejahatan, aparat keamanan merasa malu ketika mencoba melakukan tindakan penyelewengan terhadap aparat sipil yang belum ada bukti yang kuat, Pemuka agama merasa malu ketika mencoba menghalalkan yang haram dan sebalik demi kepentingan pribadi, media massa merasa malu ketika mengabarkan info negatif yang bisa mempengaruhi psikologis masyarakat dan tidak hanya menarik keuntungan finansial semata, pejabat merasa malu jika menyelewengkan kekuasaan terkait profesinya, atasan merasa malu ketika melakukan tindakan ketidakadilan terhadap bawahan dengan ketidaksesuaian antara hak dan kewajibannya, begitu juga bawahan merasa malu ketika melakukan tindakan penipuan terhadap atasannya, dan juga MALU Anggota DPR TIDUR ketika Sidang Berlangsung"

Teringat dari puisinya Taufiq Ismail yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia: Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kaca mata, dan kubenamkan topi baret di kepala, malu aku jadi orang Indonesia. Puisi ini menjadi bahan evaluasi bagi kita sebagai bangsa yang beradab, berbudaya tinggi, dan janganlah kita sendiri yang mencoreng nama harum bangsa Indonesia. Semoga budaya Malu kembali tertanam dalam diri kita. dan menjujung tinggi peradaban yang telah nenek moyang wariskan kepada generasi kita. Amin

Jadilah Indonesiaku dan bukan Indonesia-indonesiaan, Indonesiaku yang memiliki budaya MALU dan bukan Indonesia-indonesiaan yang MALU-MALUIN.

Mohon untuk tidak mengcopy tulisan ini! Karena tulisan ini diajukan untuk mengikuti Ma Chung Blog Competition 2010 .